MELBOURNE — Pameran kesepian di Australian Centre for Contemporary Art (ACCA) mencoba membuat rasa yang sering disembunyikan itu terasa lebih dekat, lebih nyata, dan sedikit lebih ringan. Lewat pameran berjudul Are you lonely tonight?
I’m so lonesome I could cry, pusat seni kontemporer di Naarm/Melbourne itu mengumpulkan 11 seniman untuk membaca ulang kesepian lewat karya yang lucu, ganjil, menyentuh, dan kadang pahit.
Pameran ini digarap oleh artistic director sekaligus CEO ACCA, Russell-Cooke, bersama Sophie Prince. Judulnya diambil dari lagu yang dipopulerkan Elvis Presley, dan ini menjadi pembuka seri Art as Emotion milik ACCA. Pesannya jelas: kesepian bukan sekadar kondisi pribadi yang disimpan rapat-rapat, melainkan pengalaman yang bisa dilihat, dibicarakan, dan dipahami lewat seni.
Pameran kesepian dan alasan tema ini diangkat
Russell-Cooke mengaku tema itu dekat dengan banyak orang. “I get lonely; I think everyone does,” katanya. Ia juga menyebut ada “loneliness epidemic”, tetapi masih ada “strange resistance” bahkan dari kalangan psikiater untuk mendefinisikan kesepian. Menurut dia, resistensi semacam itu ikut memelihara stigma dan rasa malu ketika seseorang mengakui dirinya kesepian.
Ia merujuk pada pengamatan sosiolog dan penulis Robert Weiss yang, menurutnya, lebih sering membahas kesepian lewat para penulis lagu ketimbang ilmuwan sosial. Dari situlah pameran ini lahir. Seni, kata Russell-Cooke, memberi bahasa untuk emosi yang sulit diberi definisi.
“Artists make visible feelings that are not visible, that resist definition,” ujarnya.
ACCA tidak sekadar mengisi ruang dengan karya yang seragam. Lembaga itu mengundang seniman dari beragam latar, mulai dari kreator lokal baru sampai aktris sekaligus pelukis Lucy Liu. Russell-Cooke menilai seni memberi cara yang lebih tajam untuk membaca kesepian dibanding banyak pendekatan lain.
“The way I see it, we can understand loneliness far better through art than probably just about anything else,” katanya.
Dari ikan mas sampai hot dog yang tak kunjung selesai
Begitu masuk ruang pamer, pengunjung langsung bertemu ikan mas oranye cerah bernama Pao Pao. Ikan itu berenang di akuarium sederhana di depan dinding putih. Pao Pao milik Russell-Cooke sendiri, dan juga tampil sebagai bintang film pendek Kelly Yu berjudul Endling, yang bicara tentang hewan terakhir dari spesiesnya.
Di sudut lain, ada hot dog yang jadi pusat instalasi Seth Brown bertajuk Frank. Sosis itu terus menggulir foto roti di ponsel, seolah sedang mencari pasangan yang pas. Detailnya terdengar kocak. Tapi justru di situ daya tariknya: kesepian bisa tampil sebagai lelucon kecil yang berulang tanpa akhir.
Selama pameran berlangsung, ada dua tugas harian yang harus dilakukan: memberi makan ikan dan mengganti hot dog. Rutinitas itu terdengar aneh, tapi cocok dengan suasana pameran yang memang mengajak pengunjung menatap benda-benda biasa dengan cara yang lain.
Internet, meme, dan rasa sepi yang makin akrab
Karya-karya yang dipamerkan datang dari berbagai belahan dunia. Tema yang muncul juga lebar. Ada bayang-bayang foto keluarga yang hilang, sampai hubungan antara kebersamaan dan kesendirian di kelab malam.
Kayla Mattes, seniman berbasis Los Angeles, menggarap karya tenun hampir tujuh meter berjudul Lonely Planet. Ia mengaku ide awalnya muncul dari “loneliness of the screen”. Ia melihat layar membuat orang bisa terhubung dengan banyak orang di seluruh dunia, tetapi tetap merasa makin sendiri.
Karya Mattes merangkai meme, ikon internet, dan serpihan visual daring lain yang akrab bagi mereka yang hidup terlalu lama di depan layar. Dengan warna-warna wool yang terang, ia mengolah putus asa, kejenuhan, dan humor tajam khas internet. Menariknya, karya itu juga berubah jadi sesuatu yang lebih personal.
“It evolved into more of a heartbreak piece,” kata Mattes.
Ia juga menyebut karyanya sebagai bentuk arsip. Gambar-gambar yang biasanya lewat begitu saja di internet ia ubah menjadi benda fisik yang bisa disimpan. Di titik itu, kesepian tidak lagi berdiri sendirian. Ia bersisian dengan ingatan, kehilangan, dan kebiasaan menggulir layar tanpa henti.
Soal sepi yang lahir dari layar
Bagian paling tajam dari pameran ini justru datang saat teknologi ikut masuk ke dalam narasi. Natasha Matila-Smith, seniman asal Aotearoa/New Zealand, menampilkan karya berjudul If I die, please delete my Soundcloud.
Pengunjung diminta masuk ke bawah seprai putih bersih di ranjang tunggal yang berhias, lalu mengambil laptop dan headphone yang disediakan untuk menonton sang seniman rebah di tempat tidur sambil menelusuri layar tanpa henti.
Di layar itu muncul kalimat seperti “are my heart palpitations from drinking too many fizzy drinks?”. Adegan sederhana. Tapi mengganggu. Karya ini menempelkan kesepian pada kebiasaan modern yang paling akrab: tidur dengan ponsel atau laptop, lalu tenggelam di dalamnya.
Mattes menyebut meme lahir dari momen politik atau sosial tertentu, lalu berubah jadi semacam cara kolektif untuk melihat perasaan dan dunia. “And it kind of allows us to cope a little bit,” ujarnya. Di pameran ini, internet bukan cuma sumber gangguan. Ia juga ruang tempat rasa sepi dibagi bersama, meski bentuknya sering pecah-pecah.
Dampaknya terasa dekat dengan publik. Pameran semacam ini memberi bahasa visual bagi orang yang selama ini sulit menyebutkan rasa yang mereka alami. Saat kesepian masih sering dibungkus malu, ruang seni justru menawarkan jarak aman untuk mengakuinya tanpa harus menjelaskannya secara klinis. Itu penting, sebab banyak orang sekarang hidup dalam koneksi terus-menerus, tapi tetap merasa terputus.
Lucy Liu, studio yang sunyi, dan benda-benda temuan
Rasa sendiri juga muncul dari proses berkarya itu sendiri. Lucy Liu, yang dikenal sebagai aktris Hollywood sekaligus seniman visual, tampil lewat tiga lukisan dari seri Shunga yang dibuat pada 2006-2008. Karya-karya itu menyorot tarik-ulur antara kehidupan privat dan publik.
Russell-Cooke mengatakan dirinya dan Liu sempat berbicara tentang kerja artistik yang dalam dan reflektif. Menurut dia, proses seperti itu “only something you can do, and that’s inherently lonely”. Ia juga menyinggung bahwa seniman sering mengurung diri di studio untuk membuat karya.
Dalam konteks Liu, lapisan itu makin kompleks karena ia lama memamerkan karya dengan nama Tionghoa dan relatif anonim, sementara di waktu yang sama ia tampil di televisi dan film yang ditonton banyak orang di seluruh dunia.
Patrick Pound, seniman dan kolektor yang lahir di Aotearoa/New Zealand dan kini berbasis di Melbourne, membawa sisi lain dari kesepian ke ruang pamer.
Ia terbiasa bekerja sendirian, menyisir dunia nyata dan dunia digital untuk mencari benda-benda yang kemudian masuk ke instalasi found objects miliknya. “Art itself, it’s often a very solitary pursuit. If it is a game and a puzzle, it’s a game of solitaire,” katanya.
Lewat The museum of loneliness, Pound menata koleksi benda di lantai galeri dalam bentuk oval. Yang tersisa bukan hanya objek, tetapi juga pertanyaan tentang siapa pemilik benda itu sebelumnya, mengapa foto wajahnya dipotong, atau apakah sebuah benda pernah jadi saksi luka kecil yang tak tercatat.
Pound mengakui kesepian bukan salah satu dari 130 kategori yang biasa ia kumpulkan, tapi justru itu yang membuatnya tertarik.
Ia pun bertanya, “How do you find objects a”
Pertanyaan itu belum selesai di bahan sumber yang tersedia, tetapi pamerannya sudah berjalan di ACCA. Dan selama ruang itu masih dibuka, Pao Pao tetap berenang, hot dog tetap mencari pasangan, dan kesepian terus dipindahkan dari perasaan sunyi di kepala menjadi benda-benda yang bisa dilihat banyak orang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.