Jumat, 31 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Startup Nuklir Antares Raih Rp7,3 Triliun untuk Pasok Reaktor Militer

Startup Nuklir Antares Raih Rp7,3 Triliun untuk Pasok Reaktor Militer
Startup Nuklir Antares Raih Rp7,3 Triliun untuk Pasok Reaktor Militer

JAKARTA — Persaingan energi nuklir skala kecil untuk kepentingan pertahanan kian memanas. Startup asal Torrance, California, Antares, baru saja mengumumkan perolehan pendanaan senilai 470 juta dolar AS atau setara dengan Rp7,3 triliun. Suntikan modal jumbo ini disiapkan untuk mengejar target ambisius: menyediakan reaktor nuklir bagi militer Amerika Serikat paling lambat tahun 2028.

Putaran pendanaan Seri C ini dipimpin oleh Paradigm dan Caffeinated Capital. Beberapa investor lain yang terlibat termasuk Point72 Ventures, Shine Capital, dan Industrious Ventures. Data dari PitchBook, sebagaimana dilaporkan TechCrunch, menunjukkan besarnya kepercayaan investor terhadap teknologi yang tengah dikembangkan Antares untuk sektor keamanan nasional.

Pencapaian Reaktor Mark-0

Kepercayaan investor ini bukan tanpa alasan. Tujuh minggu sebelum pengumuman pendanaan, teknologi reaktor mikro milik Antares, Mark-0, berhasil mencapai status kritis di Idaho National Laboratory. Keberhasilan ini tercapai berkat otorisasi Departemen Energi Amerika Serikat serta dukungan dari BWX Technologies dalam uji coba yang disaksikan langsung oleh pihak Angkatan Darat.

Antares mengklaim reaktor mereka merupakan unit pertama yang dikembangkan pihak swasta dan bukan berbasis air (non-light-water) yang mencapai status kritis di Amerika Serikat dalam empat dekade terakhir. Teknologi ini mengandalkan bahan bakar TRISO, sistem yang juga akan diimplementasikan pada desain Mark-1 sebagai model komersial mereka.

Tenggat Waktu 2028

Keterlibatan militer dalam proyek ini bukan sekadar kebetulan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah menandatangani perintah eksekutif tentang penyebaran teknologi reaktor nuklir canggih untuk keamanan nasional. Aturan tersebut mewajibkan adanya reaktor nuklir yang diatur oleh militer di situs pangkalan domestik paling lambat 30 September 2028.

Saat ini, Antares menjadi salah satu dari tiga finalis dalam program Pentagon yang bertajuk Advanced Nuclear Power for Installations. Program ini bertujuan menguji dan menggunakan reaktor modul kecil (SMR) di dua pangkalan angkatan udara yang berbeda.

CEO Antares, Jordan Bramble, menegaskan bahwa reaktor mereka dirancang untuk beroperasi secara andal selama lebih dari enam tahun tanpa perlu pengisian bahan bakar.

Bagi industri pertahanan dan energi, tantangan utama yang dihadapi Antares adalah memindahkan teknologi dari skala laboratorium ke produksi massal.

Laporan dari firma penasihat keuangan Lazard menyebutkan, pendekatan reaktor mikro saat ini masih memerlukan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan turbin gas konvensional maupun sumber energi terbarukan lainnya.

Selain itu, rantai pasok untuk reaktor nuklir canggih di Amerika Serikat belum sepenuhnya matang, sehingga risiko operasional pada saat produksi skala penuh tetap menjadi pekerjaan rumah utama bagi Antares.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda