Sabtu, 1 Agustus 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Doli Kurnia luncurkan 4 buku saat reuni aktivis

Doli Kurnia meluncurkan empat buku di depan ratusan aktivis pada Reuni Aktivis ADK SHOW Jakarta
Ahmad Doli Kurnia meluncurkan empat buku baru di Reuni Aktivis Arena Demokrasi & Kritik (ADK SHOW), Jakarta, Ahad (26/7) yang dihadiri ratusan aktivis, akademisi, dan tokoh senior. . (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Ahmad Doli Kurnia meluncurkan empat buku sekaligus di tengah ratusan aktivis, akademisi, dan politisi dalam Reuni Aktivis yang diselenggarakan di Arena Demokrasi & Kritik (ADK SHOW) pada Ahad (26/7) lalu. Keempat judul baru itu adalah Perspektif, Kacamata Doli Kurnia (2), Quote of The Day, dan Kacamata versi Komik.

Politisi Partai Golkar dan Wakil Ketua Baleg itu mengungkap sudut pandang di balik setiap karya. “Buku ini tidak menceritakan diri saya, melainkan menulis tentang lingkungan dan orang-orang yang berkesan dalam hidup,” kata Doli dalam keterangannya.

Perspektif Tanpa Autobiografi

Buku Perspektif, menurut Doli, menceritakan perjalanan hidupnya dari Medan hingga menjadi politisi — namun fokus bukan pada dirinya sendiri. “Bukan autobiografi; justru ini merupakan cara pandang, POV, atau perspektif saya tentang apa yang saya lihat dan rasakan sejak kecil hingga sekarang,” jelasnya.

Doli menekankan bahwa satu peristiwa dapat dilihat berbeda-beda oleh setiap orang. “Mungkin satu peristiwa bisa dilihat secara berbeda oleh masing-masing dari kita, dan itulah kekayaan perspektif. Bahwa perbedaan cara pandang itu biasa,” ujar ayah dua anak tersebut.

Penerbitan keempat buku ini menambah daftar karya Doli Kurnia sejak 1999. “Secara keseluruhan saya telah menulis 14 buku sejak 1999,” katanya kepada ANTARA.

Kumpulan Tulisan Satu Tahun Terakhir

Buku Kacamata Doli Kurnia merupakan kompilasi tulisan selama setahun terakhir. Topik yang disentuh cukup beragam: UU Pemilu, sistem politik, kekerasan terhadap anak, hingga situasi di Palestina dan Iran. “Saya, sebagai anggota parlemen, pada dasarnya tidak hanya mewakili satu bidang atau satu dapil saja. Namun semua isu yang menjadi kegelisahan rakyat,” terang Doli.

Di tengah acara, Doli menyampaikan pesan mendalam tentang keterbukaan. “Manusia harus bersedia menerima kritik dan saran. Artinya, saya ingin menjadi orang yang tidak antikritik dan selalu terbuka,” katanya. Ia juga mengapresiasi para pengisi acara, roaster, dan rekan-rekan aktivis yang memberikan testimoni serta masukan.

Bagi Doli, ADK Show bukan sekadar ajang reuni. “Tetapi juga menjadi ruang refleksi pribadi. Masukan-masukan ini sangat berharga bagi saya,” ungkapnya, menambahkan tekadnya tetap menjadi aktivis ke depan.

Tokoh Senior Berbagi Perspektif

Akbar Tandjung, legenda Partai Golkar, memberikan nasihat tentang kehormatan dan ketenaran. “Kehormatan dan ketenaran juga merupakan bagian dari cobaan. Karena itu, selalu membumi dan ingat pada janji-janji yang menanti untuk diwujudkan,” ujarnya.

Akbar juga menekankan bahwa demokrasi memerlukan kritik sekaligus keteraturan. “Hakikat demokrasi juga sebetulnya keteraturan. Kalau demokrasi tidak diatur, bisa kacau,” katanya.

Suharso Monoarfa, mantan Menteri PPN/Kepala Bappenas, memberikan testimoni tentang kolaborasi dengan Doli dalam penyusunan Undang-Undang Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia memuji kejelian Doli saat mengusulkan perlunya Perpres untuk memastikan kapan pembangunan ibu kota dimulai.

Siti Zuhro dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menganggap Doli sebagai representasi kader Golkar dan HMI yang diperhitungkan. Meski demikian, ia menyampaikan catatan ringan: “Saya melihat Doli kurang punya sense of humor,” ucapnya, disambut tawa hadirin.

Figur Pegangan di Tengah Ketidakpastian

Aktivis senior Fachry Ali melihat potensi Doli sebagai pemimpin yang dapat memberikan pegangan di dinamika politik yang penuh ketidakpastian. “Di tengah politik praktis yang terasa seperti teka-teki, publik membutuhkan tonggak yang kuat. Salah satunya adalah Ahmad Doli Kurnia Tandjung,” ujar Fachry.

Acara tersebut menghadirkan figur-figur beragam dari berbagai spektrum.

Hadir Rocky Gerung, kritikus papan atas dengan tagline “No Rocky No Party”; Bursah Zarnubi, legenda aktivis Jakarta yang kini menjadi bupati di Kabupaten Lahat; Mardani Ali Sera dari PKS; serta Adian Napitupulu, anggota parlemen PDIP.

Dari akademisi: Titi Anggraini, pembina Perludem, dan Feri Amsari, pakar hukum tata negara. Jurnalis pun diwakili Budiman Tanuredjo, mantan Pemimpin Redaksi Harian Kompas, dan Arifin Ashydad, mantan Ketua Forum Pemred.

Hadir pula tokoh-tokoh senior lainnya seperti Marzuki Darusman, Jimly Assidiqie, dan MS Kaban.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda