Beberapa hari sebelum puncak acara, suasana reflektif sempat terasa di Homomonument. Ribuan orang berkumpul di dekat monumen berbentuk segitiga granit merah muda tersebut untuk meletakkan bunga bagi korban serangan Berlin. Monumen ini sendiri berdiri sebagai pengingat sejarah panjang penindasan terhadap kaum gay di masa lalu.
Caspar Pisters dari Dutch HIV Association pun ikut angkat bicara. Ia sadar betul bahwa peristiwa berdarah di Jerman menghantui pikiran banyak orang. “Namun selama ada manusia, akan ada kaum LGBTQ+. Tidak ada kekerasan, bahkan satu juta bom sekalipun, yang bisa mengubah itu,” katanya dengan nada menantang.
Pandangan serupa datang dari Mick Groeneveld, sosok yang terlibat dalam pendirian museum LGBT permanen di Belanda. Baginya, serangan itu adalah pengingat telak akan kerentanan komunitas mereka di mata dunia. Tapi memilih untuk menghilang atau tidak terlihat sama sekali bukanlah solusi yang bisa diterima.
Perayaan tahun ini mengusung tema besar “UNITY”. Angka 30 tahun Amsterdam Pride digabungkan dengan edisi ke-10 WorldPride menjadi penanda perjalanan panjang komunitas ini. Di sepanjang kanal yang airnya memantulkan warna-warni kostum para peserta, mereka terus bergerak. Ancaman mungkin nyata, namun pesan tentang eksistensi dan kesetaraan tetap menjadi denyut utama di ibu kota Belanda hari ini.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.