Minggu, 2 Agustus 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Adi Prayitno Sebut Jokowi Aktif Berpolitik demi Menjaga Relevansi Gibran dan PSI

Adi Prayitno Sebut Jokowi Aktif Berpolitik demi Menjaga Relevansi Gibran dan PSI
Adi Prayitno Sebut Jokowi Aktif Berpolitik demi Menjaga Relevansi Gibran dan PSI

JAKARTA — Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai aktivitas politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo belakangan bukan sekadar mengangkat Partai Solidaritas Indonesia. Ada tujuan lebih dalam: menjaga relevansi putranya, Gibran Rakabuming Raka, menjelang Pemilu 2029.

Jokowi harus tetap memiliki kehadiran di panggung politik. Kalau tidak, pengaruhnya akan memudar pasca-lengser dari kursi presiden. “Kalau Jokowi tidak melakukan kegiatan politik, tidak membesarkan PSI, dan tidak menghidupkan kembali kartu politiknya, maka pasca-2029 politik Jokowi akan selesai.

Jokowi dianggap tidak relevan dan pastinya tidak akan punya momentum politik,” kata Adi melalui kanal YouTube Adiprayitnoofficial, Minggu (2/8).

Strategi Jokowi itu jelas tertuju pada Gibran. Dengan tetap aktif, Jokowi memastikan putranya tetap menjadi figur yang diperhitungkan dalam perpolitikan nasional. Adi bahkan memproyeksikan Gibran akan kembali menjadi calon wakil presiden, baik bersama Prabowo Subianto maupun tokoh lain.

“Jadi upaya Jokowi agar Gibran terus relevan. Supaya Gibran kembali menjadi wakil presiden Prabowo untuk kedua kalinya, sehingga eksistensi dan kekuatan politik Jokowi di masa yang akan datang terus diperhitungkan,” ujarnya.

Relevansi Politik di Era Transisi Kekuasaan

Analisis Adi menyentuh dinamika krusial dalam perpolitikan Indonesia. Ketika seorang presiden lengser, posisi politiknya tidak otomatis terjaga. Kehadiran di panggung publik, partisipasi aktif dalam partai, dan memiliki figur dekat di pemerintahan menjadi kunci untuk tetap berpengaruh. Tanpa itu, bekas presiden berisiko menjadi figur marginal.

Jokowi, yang memiliki basis kekuatan sendiri dan jaringan luas, memahami pola ini. Kehadirannya di acara Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI Kota Kupang, NTT, pada Sabtu (1/8/2026), adalah salah satu bentuk konkret dari strategi tersebut. Ia tidak hanya memberi dukungan simbolis, tetapi juga terlibat dalam pengambilan keputusan organik partai.

Gibran, sebagai putra tertua dan politikus muda dengan track record menjadi wakil presiden di era Jokowi, memiliki potensi untuk terus relevan. Namun, momentum itu tidak akan terjaga dengan sendirinya. Diperlukan dukungan aktif, positioning yang tepat, dan momentum yang tepat untuk memastikan Gibran tetap menjadi calon yang patut diperhitungkan menjelang 2029.

PSI Sebagai Instrumen Kekuatan Politik

PSI, meski masih tergolong partai relatif baru, menjadi wadah strategis. Kehadiran Jokowi yang intens dalam partai ini bukan hanya tentang membesarkan partai demi perolehan suara semata. Lebih dari itu, PSI adalah instrumen untuk mempertahankan jaringan, menjaga momentum mobilisasi, dan menciptakan platform bagi Gibran tetap terekspos di publik.

Pernyataan Jokowi kepada kader PSI di Kupang juga mencerminkan keterlibatan aktif. Ia minta kader PSI membantu rakyat dan membuka pintu bagi yang membutuhkan untuk datang ke Solo. Ini adalah cara menjaga mekanisme kekuatan grassroots dan mempertahankan opini publik yang positif terhadap dirinya dan keluarganya.

Dengan strategi ini, Jokowi mencoba menjamin bahwa pada 2029, ketika kompetisi presiden dan wakil presiden bergulir, Gibran bukan lagi figur yang sekadar “anak presiden sebelumnya,” melainkan sosok yang telah dipersiapkan dengan matang dan masih memiliki momentum cukup kuat untuk dipilih kembali menjadi wakil presiden.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda