SAMARINDA — Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Provinsi Kalimantan Timur tengah mempercepat transformasi sektor peternakan menjadi industri agribisnis modern. Langkah ini diambil untuk memastikan peran daerah sebagai penyangga utama kebutuhan pangan hewani bagi Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kepala DPKH Provinsi Kalimantan Timur, Arif Murdiyanto, menyatakan bahwa paradigma peternakan tradisional harus ditinggalkan. Saat ini, sektor tersebut di Bumi Etam diarahkan menjadi industri agribisnis yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus menarik bagi para investor. Fokus utamanya mencakup peningkatan populasi ternak, adopsi teknologi, hingga pengawasan ketat keamanan pangan asal hewan.
Integrasi Teknologi dari Hulu ke Hilir
Transformasi ini mengandalkan integrasi teknologi pada seluruh rantai produksi. Para peternak kini didorong memanfaatkan inseminasi buatan untuk memperbaiki mutu genetik, menggunakan formulasi pakan berkualitas, hingga menerapkan digitalisasi manajemen usaha. Penggunaan pemasaran digital juga dilakukan untuk memperluas jangkauan pasar.
Arif menambahkan bahwa sektor ini telah berkembang menjadi ekosistem industri yang menjanjikan keuntungan kompetitif. Komoditas unggulan daerah seperti sapi potong, kambing, ayam pedaging, ayam petelur, ayam buras, dan itik menjadi fondasi utama dalam memasok daging, telur, serta susu.
Saat ini, kebutuhan daging ayam dan telur di Kaltim diklaim sudah mampu dipenuhi secara mandiri melalui produksi lokal. Namun, tantangan masih membayangi komoditas daging sapi dan susu segar yang masih bergantung pada pasokan luar daerah. Kondisi ini membuat DPKH menjadikan peningkatan populasi ternak sebagai prioritas mendesak.
Menjawab Tantangan Keamanan Pangan IKN
Kehadiran IKN diprediksi memicu lonjakan permintaan pangan yang drastis seiring bertambahnya jumlah penduduk. Oleh karena itu, DPKH menerapkan standardisasi ketat untuk menjamin keamanan pangan asal hewan. Setiap pelaku usaha wajib memiliki sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV), didukung dengan pemeriksaan rutin di Rumah Potong Hewan (RPH) serta surveilans laboratorium yang intensif.
Langkah mitigasi terhadap ancaman Penyakit Hewan Menular Strategis seperti Penyakit Mulut dan Kuku, Lumpy Skin Disease, African Swine Fever, Avian Influenza, Brucellosis, dan Rabies juga terus diperkuat. Penguatan sistem surveilans dan vaksinasi massal menjadi garda depan dalam melindungi sentra-sentra peternakan di seluruh wilayah Kaltim.
Dalam upaya keberlanjutan, pemerintah daerah turut melakukan regenerasi melalui pembinaan terhadap 237 peternak milenial. Mereka dibekali dengan pelatihan teknis, manajemen bisnis modern, hingga akses permodalan.
Sinergi lintas sektor yang melibatkan akademisi, perbankan, kementerian, serta asosiasi pelaku usaha terus dibangun untuk mempercepat terwujudnya kemandirian pangan di kawasan penyangga ibu kota baru tersebut.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.