Senin, 3 Agustus 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Benarkah Komputer Kuantum Sudah Tersaingi oleh Kecerdasan Buatan?

Chip komputer kuantum dengan latar belakang pola saraf kecerdasan buatan
Pengembangan komputer kuantum kini berpacu dengan kecepatan inovasi kecerdasan buatan global. (Ilustrasi: AI)

MELBOURNE — Sejarah komputasi Australia mencatat CSIRAC sebagai legenda. Mesin seberat dua ton ini merupakan komputer digital otomatis kelima di dunia yang dibangun pada era 1940-an hingga 1950-an. Dengan ribuan tabung vakum yang harus disolder manual, CSIRAC mampu melakukan perhitungan rumit dalam hitungan jam, pekerjaan yang dulunya memakan waktu bulanan bagi manusia.

Kini, tantangan komputasi telah bergeser jauh melampaui mesin-mesin klasik tersebut. Pemerintah dan perusahaan rintisan di berbagai negara, termasuk Australia, tengah menggelontorkan investasi masif untuk mengembangkan komputer kuantum.

Teknologi ini digadang-gadang mampu memecahkan kode enkripsi yang mustahil ditembus komputer konvensional hingga menemukan obat-obatan baru melalui manipulasi elektron dan foton atau yang dikenal sebagai qubit.

Revolusi Qubit dan Tantangan Nyata

Hingga saat ini, komputer kuantum dengan sekitar 6.100 qubit menjadi yang terbesar yang pernah dioperasikan. Namun, ambisi besar untuk menciptakan komputer kuantum yang benar-benar “berguna”—dengan kapasitas jutaan qubit—masih dalam tahap pengembangan. Perusahaan raksasa seperti IBM dan Google telah mencoba mewujudkannya selama satu dekade terakhir.

Di Australia, langkah strategis dilakukan dengan dukungan dana pemerintah senilai satu miliar dolar untuk membangun fasilitas komputasi kuantum di Queensland melalui perusahaan PsiQuantum.

Geoff Pryde, kepala direktur teknis di PsiQuantum, mengungkapkan bahwa perusahaan mereka memproduksi chip khusus berisi alur mikro untuk mengarahkan foton.

“Kami menargetkan jutaan qubit fisik untuk menyelesaikan masalah yang tidak bisa disentuh oleh superkomputer saat ini maupun di masa depan,” ujarnya.

Di sisi lain, Michelle Simmons, CEO Silicon Quantum Computing, menilai perkembangan teknologi kuantum saat ini sebenarnya berjalan sangat cepat jika dibandingkan dengan evolusi komputasi klasik. Ia menyoroti kemampuan peneliti saat ini yang sudah bisa mengendalikan elemen fungsional hingga tingkat satu elektron pada satu atom dengan akurasi sangat tinggi.

Bayang-bayang Dominasi AI

Namun, di tengah perlombaan menuju komputer kuantum, teknologi kecerdasan buatan atau AI justru melesat dengan kecepatan yang jauh lebih fenomenal dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran AI yang semakin masif di arus utama membuat posisi kuantum mulai dipertanyakan. Sejumlah masalah yang dulu diprediksi hanya bisa diselesaikan oleh sistem kuantum, kini mulai mampu dijawab oleh algoritma AI.

Gideon Lichfield, jurnalis teknologi yang telah meliput bidang komputasi kuantum selama puluhan tahun, menyebut bahwa popularitas AI telah membayangi urgensi riset kuantum. Menurutnya, AI telah mengambil perhatian besar dari industri. Kendati demikian, ia meyakini bahwa komputer kuantum tetap memiliki peran krusial di masa depan meski sifatnya bukan untuk tujuan umum seperti AI.

Pihak pemerintah di Australia sendiri menghadapi tantangan untuk menjaga kepercayaan publik terkait investasi ini. Kritik sempat muncul dari parlemen setelah adanya perubahan lokasi pembangunan fasilitas kuantum dari Bandara Brisbane ke Moreton Bay yang disebut sebagai langkah penuh kekacauan.

Terlepas dari perdebatan tersebut, tahun-tahun mendatang akan menjadi titik penentu apakah investasi bernilai miliaran dolar pada komputer kuantum akan membuahkan hasil nyata atau justru akan sepenuhnya tergeser oleh perkembangan kecerdasan buatan.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda