MELBOURNE — diaspora Iran di Australia sedang retak, dengan sebagian warga saling menuduh pengkhianat, simpatisan rezim, hingga “blood-washer” di tengah trauma politik yang belum reda. Ketegangan itu paling terasa di komunitas Iran-Australia di Melbourne, tempat rasa aman berubah jadi rasa waswas.
Dampaknya bukan sekadar cekcok di ruang publik. Banyak orang kini menyaring teman, menahan bicara, dan menjaga jarak bahkan dari sesama perantau yang dulu dianggap satu keluarga besar.
Stigma “blood-washer” memecah diaspora Iran
Seorang analis data asal Melbourne, Sara, menjadi salah satu yang merasakan tekanan itu langsung. Identitasnya disamarkan demi keamanan. Ia mengaku diserang secara verbal oleh anggota komunitas Iran di Australia karena pandangan politiknya, termasuk dituduh sebagai “blood-washer” dan “pengkhianat”.
Dalam bahasa Persia, istilah “blood-washer” merujuk pada upaya menutup-nutupi kematian akibat penindasan brutal pemerintah Iran saat demonstrasi besar awal 2026. Namun, label itu juga dipakai untuk menyerang orang-orang yang tidak mendukung Reza Pahlavi, putra mantan raja Iran yang dipandang sebagian anti-rezim sebagai tokoh panutan.
Sara mengatakan dirinya dan keluarga tidak mendukung monarki, tapi juga menolak pemerintah. Sikap di tengah-tengah itu justru membuatnya jadi sasaran. “Saya paling banyak merasakan kesepian dari komunitas saya dalam beberapa bulan terakhir,” kata Sara.
Ia bukan orang baru dalam tekanan politik. Di Iran, Sara pernah ditangkap, diperiksa, dan diintimidasi oleh aparat. Orang tuanya serta beberapa kerabat juga sempat dipenjara karena sikap politik mereka. Tapi pengalaman itu tak membuat tuduhan dari lingkungan baru di Australia terasa lebih ringan.
Puncaknya terjadi dalam sebuah unjuk rasa di Melbourne. Seorang pendukung monarki berteriak di depan wajah Sara dan menuduhnya pengkhianat karena tak ikut meneriakkan nama Pahlavi. Sara mengaku membeku. Ia tak sempat bereaksi. Beruntung, orang di sekitarnya turun tangan sebelum situasi memburuk.
Trauma lama ikut terbawa ke Australia
Maryam, mahasiswi doktoral di Melbourne, juga memilih memakai nama samaran. Ia mengatakan hidupnya nyaman di kota itu, tapi latar belakang keluarganya sebagai pembangkang politik membuatnya sangat hati-hati dalam membangun relasi.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.