“Saya tak akan pernah mendekat pada siapa pun yang punya kaitan, sekecil apa pun, dengan pemerintah. Itu batas saya,” ujarnya.
Maryam tahu betul mengapa kehati-hatian itu begitu kuat. Keluarganya pernah dipenjara di Iran karena pandangan politik. Di negara asalnya, ia melihat sendiri bagaimana perbedaan pendapat bisa berujung pada ancaman nyata. Dalam suasana seperti itu, rasa percaya tumbuh sangat lambat. Kadang nyaris tak tumbuh sama sekali.
Ia menyebut masyarakat Iran, baik di dalam maupun luar negeri, terdorong oleh kemarahan dan keputusasaan yang panjang. “Tetangga bisa jadi musuh tetangga lain karena mereka tidak berbagi keyakinan politik yang sama,” katanya.
Kenyataan itu turut diperkuat oleh penilaian lembaga keamanan Australia. Aparat intelijen negara itu telah mengakui pemerintah Iran memakai pola transnational repression, yakni tekanan lintas negara untuk membungkam lawan politik dan keluarga mereka. Ancaman semacam ini membuat warga diaspora terus menengok ke belakang. Siapa yang mengawasi? Siapa yang melapor? Pertanyaan-pertanyaan itu hidup di kepala banyak orang.
Ruang digital memperbesar kecurigaan
Kambiz Razmara, pengacara sekaligus wakil presiden Australian Iranian Society of Victoria, menyebut ikatan budaya warga Iran di Australia masih kuat. Bahasa, puisi, dan makanan masih menjadi perekat. Tapi kohesi sosial dan politiknya rapuh.
Masalahnya, komunitas ini hidup di antara banyak lapis ketakutan: dugaan infiltrasi aktor bermusuhan, jaringan kriminal, sampai individu yang punya kaitan dengan negara. Bagi warga biasa, semua itu sulit diverifikasi. Namun, kecurigaan yang menyebar saja sudah cukup merusak hubungan sosial.
Razmara menilai budaya informan, represi politik, dan ketakutan yang dibawa dari kehidupan di bawah rezim otoriter masih ikut terbawa ke Australia. Dalam ruang demokrasi yang terbuka, sebagian orang justru belum terbiasa berdebat dengan sehat. Perbedaan pendapat cepat berubah jadi serangan personal.
“Banyak orang datang dari lingkungan tempat ketidaksetujuan politik punya konsekuensi nyata, kepercayaan pada institusi rendah, dan partisipasi demokratis terbatas,” kata Razmara.
Di internet, persoalan itu membesar. Media sosial memudahkan disinformasi, menyebarkan tuduhan dengan cepat, lalu mengubah konflik pribadi menjadi kampanye fitnah, doxxing, dan pengawasan. Luka psikologisnya tidak kecil. Diam-diam. Dalam.
Maryam menggambarkan jarak emosional dengan keluarganya di Iran sebagai beban yang terus menekan. Rumah orang tuanya masih punya sambungan telepon rumah, yang sempat sangat berguna saat Iran mengalami pemadaman internet hampir tiga bulan. Tapi biaya menelepon luar negeri mahal, jadi percakapan biasanya singkat.
“Dalam semenit bicara, Anda tidak bisa bilang apa-apa, jadi kami pada dasarnya berbohong: ‘Saya baik-baik saja, bagaimana denganmu?’ ‘Saya baik-baik saja.’ ‘Oke, tidak ada bom, ya!’ ‘Ya, sampai jumpa,’” katanya getir.
Ia hidup dengan beban kuliah beasiswa, tekanan finansial, terapi, dan obat penenang. Teman-temannya ada, tapi tak selalu bisa memahami sepenuhnya apa yang ia hadapi. Jarak 12.000 kilometer membuat semua terasa lebih berat. Dan lebih sunyi.
Razmara menegaskan, yang paling menyakitkan bagi banyak warga Iran di Australia bukan hanya konflik politik di negeri asal. Yang lebih melukai justru kecurigaan di negara tempat mereka mencari aman. “Eksekusi terus berlanjut. Para pembangkang menghilang. Keluarga hidup dalam putus asa dan kelelahan. Tapi kisah mereka jarang tinggal lama di ruang publik,” ujarnya.
Focus keyword: diaspora Iran kini bukan cuma soal identitas perantau. Ia juga soal bagaimana trauma rezim otoriter bisa merembet jauh, memecah solidaritas, dan meninggalkan orang-orang yang seharusnya saling menopang justru saling menjauh.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.