Senin, 3 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Keterlambatan bicara ancam tumbuh kembang anak, ini kata dokter

Dokter spesialis anak melakukan pemeriksaan tumbuh kembang pada balita
Pemantauan tumbuh kembang secara berkala membantu deteksi dini keterlambatan bicara pada anak. (Ilustrasi: AI)

BANDUNG — Ancaman keterlambatan bicara atau speech delay pada anak kini menjadi perhatian serius bagi tenaga medis. Kondisi ini bukan sekadar masalah komunikasi, melainkan sinyal bahaya yang berpotensi memicu efek domino, mulai dari gangguan fokus belajar hingga hambatan perkembangan secara menyeluruh pada buah hati.

Stephanie Supriadi, Dokter Spesialis Anak di Mayapada Hospital Bandung, mencatat adanya tren peningkatan kasus speech delay pascapandemi COVID-19.

Pemicu utamanya sering kali berkaitan dengan paparan gawai yang berlebihan tanpa adanya interaksi dua arah, terutama pada balita berusia di bawah dua tahun.

Menurutnya, orang tua harus lebih jeli mengenali tanda bahaya perkembangan bahasa anak sejak dini agar tindakan medis dapat diambil secara optimal.

Evaluasi klinis menjadi sangat krusial saat anak menginjak usia 9 bulan. “Saat usia 9 bulan anak sudah bisa babbling atau tidak. Kalau anak belum bisa babbling dan juga belum bisa menoleh saat dipanggil, itu harus langsung dibawa ke rumah sakit,” ungkap Stephanie.

Sebagai indikator lanjut, anak berusia 15 bulan idealnya sudah mampu mengucapkan satu kata spesifik, dan saat memasuki usia 2 tahun, mereka diharapkan sudah bisa mengombinasikan dua kata dalam satu rangkaian kalimat.

Waspada Gejala Penyerta

Keterlambatan bicara sering kali tidak muncul sebagai kondisi tunggal. Stephanie menjelaskan bahwa keterlambatan ini terkadang disertai gejala klinis lain, seperti perilaku hiperaktif yang berlebihan atau kecenderungan menyakiti diri sendiri.

Dokter akan melakukan evaluasi komprehensif, mulai dari pemeriksaan fisik hingga tes fungsi pendengaran yang merupakan syarat mutlak kemampuan bicara.

Selain itu, kondisi ini juga bisa berkaitan dengan evaluasi lebih lanjut terhadap risiko autisme maupun Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Dalam mencegah hal ini, Stephanie menyarankan agar pemberian gawai dibatasi ketat. Ia menekankan bahwa anak di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak terpapar screen time sama sekali. Peran orang tua menjadi kunci paling efektif melalui stimulasi dan interaksi langsung di rumah setiap harinya.

Upaya ini sejalan dengan pandangan para ahli bahwa masa lima tahun pertama kehidupan merupakan periode emas bagi anak.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda