Senin, 3 Agustus 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Aturan Panas Linemen Didorong demi Lindungi Pemain

Aturan panas linemen saat latihan football pramusim
Latihan pramusim di cuaca panas memicu desakan aturan baru untuk melindungi linemen. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — aturan panas linemen kembali jadi sorotan setelah dua organisasi besar sepak bola Amerika mendorong pendekatan baru untuk mencegah heatstroke pada pemain garis serang dan garis bertahan.

National Athletic Trainers’ Association dan National Federation of State High School Associations meminta pelatih mengubah pola latihan pramusim, terutama saat suhu di banyak wilayah Amerika Serikat berada di atas normal.

Permintaan itu bukan tanpa alasan. Menurut bahan ESPN yang ditulis Paula Lavigne pada 2 Agustus 2026, linemen menyumbang 90% kematian akibat heatstroke di tingkat sekolah menengah dan perguruan tinggi.

Dua organisasi itu juga mengingatkan pelatih agar tidak lagi menjadikan lari satu mil, serial sprint, dan tes performa pramusim lain sebagai menu awal untuk linemen pada beberapa pekan pertama musim.

Latihan yang dipersoalkan

Di titik ini, perdebatan utamanya sederhana: apakah semua pemain harus diperlakukan sama saat cuaca panas? NATA dan NFHS menilai jawabannya tidak. Dalam rilis yang dikutip ESPN, keduanya menekankan bahwa pemberian pakaian lebih ringan, hidrasi yang cukup, dan waktu adaptasi terhadap cuaca tetap penting, tetapi belum cukup untuk menutup risiko khas linemen.

Organisasi itu bahkan mengingatkan agar drill berbasis kelelahan tidak dipakai sebagai hukuman. Menurut bahan yang sama, praktik seperti itu disebut sebagai faktor dalam 37% kematian akibat heatstroke di football. Angka ini membuat perdebatan tentang keselamatan latihan pramusim terasa jauh lebih serius daripada sekadar urusan kenyamanan di lapangan.

Kenapa linemen paling rentan

Scott Anderson, direktur special projects di College Athletic Trainers Society sekaligus mantan head athletic trainer University of Oklahoma, menyebut angka kematian rata-rata per tahun tidak banyak berubah dalam beberapa dekade terakhir. Ia mengatakan, jika dihitung dari sekitar 2000 sampai sekarang, jumlahnya naik dari sekitar 2.1 per year menjadi 2.6 per year.

“So the bottom line is we’re not preventing fatalities,” kata Anderson kepada ESPN.

Ia menjelaskan, linemen lebih rentan karena ukuran tubuh dan berat badan mereka. NATA dalam pernyataan berjudul Preventing Exertional Heat Stroke Death in American Linemen yang terbit di jurnal medis Sports Health menyebut ada beberapa kerentanan khas: massa tubuh lebih besar, kebugaran aerobik lebih rendah, produksi panas metabolik lebih tinggi, dan efisiensi pendinginan yang berkurang.

Anderson juga menegaskan bahwa kematian biasanya terjadi saat latihan, bukan saat pertandingan. Ia menyarankan pelatihan dibuat sesuai tuntutan peran linemen di game, bukan dipaksa mengikuti pola lari seperti receiver, running back, atau defensive back. Ia bahkan mengusulkan agar mereka mendapat akses ke ruang ber-AC ketika latihan berlangsung di cuaca panas.

Dampaknya ke sekolah, keluarga, dan pelatih

Bagian paling relevan dari isu ini justru ada di luar statistik. Sekolah, pelatih, dan orang tua kini dihadapkan pada pertanyaan yang sama: seberapa jauh latihan boleh dipaksa sebelum keselamatan pemain terancam? Di banyak program sepak bola sekolah, tekanan untuk tampil bagus sering bertabrakan dengan sinyal tubuh yang sebenarnya sudah kelelahan.

Di bahan ESPN, kasus itu terlihat jelas dari beberapa contoh. Dalam dua bulan terakhir, dua linemen berusia 14 tahun di Arkansas dan Louisiana dirawat di rumah sakit akibat insiden terkait panas, menurut laporan media lokal dan unggahan media sosial.

Di Mississippi, Rankin County School District juga mencapai penyelesaian gugatan dari keluarga Trey Laster, senior sepak bola yang meninggal karena heatstroke pada 2022. Gugatan itu secara khusus menyinggung risiko lebih tinggi karena posisi Laster sebagai lineman.

Bagi keluarga pemain, masalahnya bukan cuma soal latihan yang berat. Alzadia Spires, ibu dari Jarvis Spires, seorang senior dan lineman berusia 18 tahun di Houston-area, mengatakan putranya masih dalam masa pemulihan setelah hampir meninggal karena heatstroke musim panas lalu. Menurut dia, banyak atlet muda memilih diam meski tubuhnya memberi sinyal bahaya.

“I think they are, especially being a high school athlete, trying to make it to the college level … they’re trying to stick it out,” kata Spires. “They don’t want to make their coaches upset, or they don’t want to seem like they’re too ‘soft.'”

Rebecca Stearns, chief operating officer Korey Stringer Institute sekaligus ketua task force NATA, menilai rekomendasi baru justru menguntungkan tim dalam jangka panjang. Menurut dia, menghindari cedera pramusim berarti menjaga partisipasi atlet agar tidak hilang selama berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun. “We don’t need linemen who can run a mile in eight minutes,” katanya.

Brendt Bedsole, assistant director Alabama High School Athletic Association yang membawahi pelatih football di lebih dari 750 sekolah menengah dan middle school, mengatakan kekhawatirannya paling besar ada pada beberapa pekan ke depan. Ia mengakui banyak pelatih sudah menyesuaikan latihan untuk linemen, tetapi sebagian masih bisa menolak karena terbiasa dengan cara lama.

“You’re going to have some [coaches] that are just old school who are brought up differently in their life and might not be as receptive,” kata Bedsole. “They probably look at me and say, ‘He’s soft.’ No, I’m smart.”

Di saat suhu terus mendorong risiko, pesan dari para ahli itu terasa tegas: latihan pramusim untuk linemen tidak lagi cukup diukur dari seberapa keras mereka dipaksa berlari, melainkan dari apakah mereka bisa pulang dari lapangan dalam keadaan aman.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda