Senin, 3 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Fakta-fakta Lengkap Ruben Onsu Bantah Isu Punya Penyakit Menular

Fakta-fakta Lengkap Ruben Onsu Bantah Isu Punya Penyakit Menular
Fakta-fakta Lengkap Ruben Onsu Bantah Isu Punya Penyakit Menular

JAKARTA — Ruben Onsu bantah isu soal penyakit menular setelah potongan percakapan pribadi yang beredar di media sosial memicu spekulasi baru. Kuasa hukumnya, Minola Sebayang, menegaskan tidak ada dokter yang pernah menyatakan kliennya mengidap penyakit yang ramai dibicarakan itu.

Klarifikasi itu disampaikan Minola untuk meluruskan tafsir publik atas tangkapan layar percakapan yang ikut menyebar. Yang jadi persoalan, menurut dia, justru detail percakapan yang di-zoom lalu disimpulkan secara serampangan sebagai rujukan penyakit tertentu.

Awal polemik dari podcast dan tangkapan layar

Minola menjelaskan, polemik ini bermula saat dirinya tampil dalam sebuah podcast bersama Denny Sumargo. Saat itu ia hanya ingin menerangkan soal penggunaan dua nomor telepon milik Ruben untuk membantah anggapan bahwa kliennya sengaja mengganti nomor.

Dari situ, sebagian pihak malah memperbesar tampilan tangkapan layar percakapan pribadi. Potongan itu lalu memunculkan dugaan soal konsumsi obat, yang kemudian dikaitkan dengan penyakit tertentu.

"Jadi saya fokus kepada materi pembuktian. Tapi mungkin ada orang yang dengan inisiatif tinggi men-zoom isi chatting tersebut. Akhirnya yang diangkat adalah kata-kata konsumsi obat penyakit tiga huruf," ujar Minola yang dikutip dari YouTube pada Senin, 3 Agustus 2026.

Kalimat itu jadi titik penting. Soalnya, akar persoalannya bukan pada hasil pemeriksaan medis yang diumumkan ke publik, melainkan tafsir atas potongan percakapan yang beredar di ruang digital. Dari sini pula spekulasi berkembang lebih jauh.

Minola Sebayang tegaskan tak ada bukti medis

Minola menegaskan, hingga saat ini tidak pernah ada dokter yang memeriksa Ruben lalu menyatakan ia mengidap penyakit yang dipersoalkan. Ia juga menolak anggapan bahwa obat yang pernah dikonsumsi Ruben bisa dipakai untuk menyimpulkan diagnosis tertentu.

"Sementara tidak ada dokter siapapun yang memeriksa dia itu yang menyatakan dan menyampaikan bahwa dia itu kena penyakit itu. Tidak ada siapapun yang menyampaikan bahwa obat yang dia konsumsi itu adalah obat itu," kata Minola.

Menurutnya, isu kesehatan Ruben sebenarnya bukan kali ini saja muncul. Nama Ruben sempat dikaitkan dengan kabar itu dalam percakapan pribadi dan juga dalam beberapa kesempatan lain, termasuk saat proses mediasi.

Di titik ini, yang penting bukan cuma bantahan. Ada dampak nyata ketika cuplikan percakapan dan dugaan medis menyebar tanpa dasar kuat. Bagi figur publik, kabar seperti ini cepat sekali berubah dari obrolan kecil menjadi label yang terus menempel. Bagi pembaca, situasinya jadi pengingat bahwa potongan chat bukan dokumen medis, dan interpretasi sepihak bisa menggeser fakta.

Kenapa Ruben memilih tes laboratorium

Karena isu itu berulang, Ruben akhirnya memilih menjalani pemeriksaan laboratorium agar memiliki bukti objektif jika persoalan yang sama kembali dipersoalkan. Minola menyebut langkah itu diambil untuk menyiapkan dasar yang lebih jelas, bukan karena kabar yang ramai saat ini mendadak muncul.

Ia menegaskan pemeriksaan kesehatan itu dilakukan pada 25 Juli 2026, beberapa hari setelah proses mediasi pada 15 Juli. Jadi, kata dia, tes tersebut bukan reaksi spontan atas kabar yang baru naik ke permukaan.

"Jadi bukan setelah ini naik, terus buru-buru melakukan pengecekan. Pemeriksaan itu dilakukan pada tanggal 25 Juli," jelasnya.

Urutan waktu ini membuat isu tersebut punya konteks yang lebih rapi. Mediasi sudah lebih dulu terjadi pada 15 Juli 2026, lalu pemeriksaan menyusul pada 25 Juli 2026. Itu berarti ada jeda yang cukup untuk menunjukkan bahwa langkah medis yang ditempuh Ruben tidak lahir dari kepanikan sesaat.

Wajar jika klarifikasi semacam ini mendapat perhatian besar. Publik sekarang bukan cuma menunggu bantahan, tapi juga menunggu apakah hasil pemeriksaan laboratorium akan ikut memperjelas duduk perkara yang sejak awal dipicu oleh percakapan pribadi. Dari sana, arah percakapan berikutnya akan ditentukan oleh bukti, bukan asumsi.

Di sisi lain, kasus ini juga memperlihatkan betapa cepatnya potongan informasi berubah bentuk saat keluar dari konteks awalnya. Satu tangkapan layar bisa memicu tafsir berlapis, lalu menyeret nama seseorang ke isu yang jauh lebih besar dari isi percakapan semula.

Untuk sekarang, posisi Ruben sudah dijelaskan melalui kuasa hukumnya. Berikutnya, perhatian publik akan tertuju pada langkah lanjutan pihak Ruben bila isu yang sama kembali diangkat ke ruang publik.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda