JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (3/8). Pertemuan bilateral tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis yang mencakup penguatan sektor pangan, industri pertahanan, hingga penanganan kejahatan lintas negara.
Kedua pemimpin negara menekankan urgensi kolaborasi untuk menjaga stabilitas kawasan di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Langkah ini menjadi krusial mengingat posisi kedua negara sebagai pilar ekonomi di Asia Tenggara yang saling melengkapi dalam berbagai rantai pasok.
Ketahanan Pangan dan Perdagangan
Thailand secara terbuka menawarkan diri sebagai pemasok beras untuk kebutuhan nasional Indonesia. Anutin menyatakan kesiapan negaranya menyuplai beras berkualitas tinggi. Di sisi lain, Thailand juga mendorong peningkatan impor berbagai produk pertanian asal Thailand, termasuk daging, produk susu, serta mesin-mesin pertanian.
Tak hanya satu arah, Indonesia juga membidik peningkatan volume ekspor pupuk urea ke Thailand. Negeri Gajah Putih tersebut memberi sinyal positif untuk menaikkan volume impor pupuk dari sekitar 60 ribu ton per tahun menjadi ratusan ribu ton per tahun. Langkah ini dipandang sebagai upaya konkret untuk mempererat integrasi ekonomi antara pelaku usaha kedua negara.
Kerja Sama Industri Pertahanan
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah tawaran pengadaan alutsista. PM Anutin menawarkan 36 unit kendaraan lapis baja amfibi atau amphibious wheeled armoured vehicle (AVAV) untuk Korps Marinir Indonesia. Model kendaraan tempur ini saat ini digunakan secara aktif oleh Korps Marinir Kerajaan Thailand.
Presiden Prabowo menyambut baik tawaran tersebut. Selain pengadaan, Presiden mendorong peningkatan latihan bersama serta pertukaran perwira antara angkatan bersenjata kedua negara. Upaya ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi serta kemampuan teknis di bidang pertahanan.
Penanggulangan Kejahatan Transnasional
Kedua negara menyepakati penguatan pertukaran informasi dan intelijen untuk membongkar jaringan kejahatan lintas negara, termasuk penipuan daring atau online scam. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah Thailand dalam memfasilitasi pemulangan hampir seribu warga negara Indonesia yang menjadi korban penipuan daring.
Ke depan, kedua negara berkomitmen meningkatkan kerja sama investigasi dan pelacakan aliran keuangan ilegal. Hal ini akan didukung oleh pengembangan Transnational Referral Mechanism (TRM) untuk memastikan proses identifikasi dan pemulangan korban kejahatan transnasional berjalan lebih cepat dan bermartabat.
Sinergi Ekonomi dan Energi
Di sektor keuangan, Indonesia dan Thailand mendorong pemanfaatan Local Currency Transaction (LCT) untuk meningkatkan efisiensi perdagangan dan investasi bilateral. Presiden Prabowo juga menyoroti potensi besar pengembangan industri halal terintegrasi untuk memperluas penetrasi pasar global.
Pada sektor energi, kedua pihak sepakat menyelenggarakan Indonesia–Thailand Energy Forum. Forum ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta untuk mengakselerasi transisi menuju energi berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional masing-masing negara.
Dialog Regional dan Global
Menanggapi krisis di Myanmar, Indonesia dan Thailand menegaskan komitmen mendukung implementasi Five-Point Consensus. Kedua negara mendorong penyelesaian krisis melalui dialog inklusif serta peningkatan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat yang terdampak. Keterlibatan ASEAN dinilai tetap menjadi kunci untuk menjaga perdamaian di kawasan.
Selain isu kawasan, Prabowo dan Anutin bertukar pandangan mengenai situasi di Timur Tengah. Presiden Prabowo menegaskan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan penghormatan terhadap hukum internasional sebagai fondasi utama perdamaian dunia yang berkelanjutan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.