HO CHI MINH CITY — Kawasan pusat perhiasan di Ho Chi Minh City yang biasanya padat oleh aktivitas perdagangan kini mendadak sunyi. Skandal penipuan serta penyelundupan berlian terbesar dalam sejarah Vietnam telah menghancurkan kepercayaan konsumen terhadap pasar batu mulia di negara tersebut secara drastis.
Laporan dari Bloomberg pada Senin (3/8) mengungkap fenomena yang memprihatinkan di sektor ritel perhiasan. Pelanggan kini tidak lagi datang ke toko untuk membeli cincin pertunangan atau koleksi kalung baru. Sebaliknya, mereka berbondong-bondong membawa nota pembelian dan sertifikat lama, berharap dapat menjual kembali berlian yang kini diragukan keasliannya.
Skandal ini berpusat pada jaringan penyelundupan berlian raksasa. Penyidik menduga lebih dari 30.000 batu permata senilai lebih dari 1,5 triliun dong atau setara USD 57 juta telah diselundupkan masuk ke Vietnam selama dua tahun terakhir.
Berlian tersebut diketahui bersumber dari India yang kemudian dialihkan via Hong Kong dengan metode penyembunyian yang cukup ekstrem, mulai dari dalam koper hingga pakaian.
Modus Manipulasi Sertifikat
Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa pelaku memanfaatkan laboratorium sertifikasi permata untuk melucuti ukiran laser asli dari Gemological Institute of America (GIA).
Setelah tanda asli dihilangkan, berlian tersebut diukir ulang dan diterbitkan sertifikat palsu yang mendongkrak kualitasnya secara fiktif. Praktik ini memungkinkan pelaku menjual batu permata tersebut dengan harga jauh di atas nilai aslinya.
Dampak langsung dari kasus ini dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat. Thanh Hang, seorang pembeli dari Hanoi, mendapati dirinya terjebak dalam krisis kepercayaan ini.
Cincin berlian yang ia beli dinilai oleh Laboratorium PNJ, anak perusahaan sertifikasi yang kini berada di bawah penyelidikan pihak berwajib. Saat ia mencoba meminta pengembalian dana, cabang toko tempatnya membeli perhiasan justru telah tutup permanen.
Respons dari perusahaan pun membuat konsumen frustrasi. Pihak perusahaan menyatakan bahwa mereka hanya bisa menyelesaikan pembayaran pengembalian dana tahun depan. Kondisi ini membuat nasabah yang mengandalkan strategi buyback untuk investasi merasa kehilangan pegangan.
Krisis Kepercayaan Industri
Chief Executive Officer PNJ, Phan Quoc Cong, mengakui bahwa kasus ini telah memicu krisis hebat bagi seluruh industri perhiasan di Vietnam. Bahkan, Cong menyebut hampir setengah dari nilai pasar PNJ musnah setelah isu penipuan ini meledak ke publik. Hingga kini, puluhan toko perhiasan terpaksa ditutup sementara menyusul gelombang inspeksi oleh aparat.
Manajer Tam Luxury Diamond di Ho Chi Minh City menuturkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, ia menerima hingga 100 klien per hari yang ingin menjual kembali permata mereka. Di saat yang sama, minat pembeli baru merosot tajam.
Situasi ini diperparah dengan penangkapan pemilik toko perhiasan terkemuka pada pertengahan Juli 2026, yang memaksa sejumlah pengecer, seperti Kim Ly Gold Shop, menghentikan operasional mereka sepenuhnya.
Bagi banyak keluarga di Vietnam, berlian bukan sekadar perhiasan mewah, melainkan instrumen penyimpan kekayaan yang krusial. Data bea cukai mencatat Vietnam mengimpor lebih dari USD 122 juta berlian pada paruh pertama 2026. Kecenderungan mengoleksi aset fisik ini berakar dari sejarah panjang perang dan inflasi tinggi yang sempat membuat masyarakat ragu pada instrumen keuangan formal.
Analis Senior Maybank Investment Bank, Nguyen Thi Sony Tra My, menilai pemulihan kepercayaan publik akan memakan waktu yang lama. Pengecer kecil diprediksi bakal menghadapi tantangan lebih berat dalam mempertahankan likuiditas.
Upaya pemulihan kini terus dilakukan, termasuk rencana PNJ untuk menyewa lembaga penilai internasional guna memeriksa seluruh inventaris demi membuktikan kredibilitas mereka di mata pelanggan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.