BANYUMAS — Seragam putih yang dikenakan Mohamad Toriq Anwar saat pelantikan Pamong Praja Muda Angkatan XXXIII Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) menyimpan jejak kerja keras yang panjang. Pemuda asal Banyumas ini berhasil menembus keterbatasan ekonomi hingga akhirnya dinobatkan sebagai salah satu lulusan terbaik tahun 2026.
Prestasi ini mengantarkan Toriq menerima kehormatan langka. Ia terpilih menjadi satu dari tiga Purna Praja yang mendapatkan penyematan tanda pangkat Pamong Praja Muda secara langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Momen tersebut menjadi puncak dari perjuangan panjang putra kedua dari tiga bersaudara ini dalam mengejar pendidikan tinggi.
Keluarga Toriq bukanlah keluarga dengan latar belakang ekonomi mapan. Orang tuanya berprofesi sebagai petani sekaligus peternak bebek yang menjajakan telur ke warung-warung di sekitar kediaman mereka. Sementara itu, sang kakak membantu ekonomi keluarga dengan menjadi buruh di pabrik kayu lokal.
Keadaan ini sempat membuat Toriq ragu saat hendak mengikuti Seleksi Penerimaan Calon Praja (SPCP) IPDN pada 2022.
Perjuangan di Balik Seleksi Kedinasan
Toriq mengisahkan bahwa kendala biaya menjadi tantangan terbesar saat ia harus mengikuti tahapan seleksi yang dipusatkan di Semarang. Jarak dari Banyumas yang memakan waktu perjalanan sekitar 4 hingga 5 jam membuat orang tuanya harus memutar otak demi membiayai transportasi dan keperluan administrasi.
“Tesnya dilaksanakan di Semarang, sementara saya berasal dari Kabupaten Banyumas. Tentu saya harus menyediakan biaya untuk transport ataupun untuk berkas. Saat itu kadang orang tua saya tidak mempunyai biaya untuk itu,” ungkapnya mengenang perjuangan tersebut.
Meski dihadapkan pada keterbatasan, tekad Toriq tidak goyah. Ia berhasil melewati serangkaian tes mulai dari seleksi administrasi, Seleksi Kompetensi Dasar (SKD), pemeriksaan kesehatan, psikotes, hingga kesamaptaan.
Torehan nilai SKD di angka 455 menempatkannya sebagai peringkat pertama di sesi seleksinya, yang kemudian mengantarnya meraih peringkat kedua hasil akhir seleksi tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Motivasi utama Toriq memilih IPDN adalah sistem pendidikan ikatan dinas yang disediakan negara. Dengan menjadi praja, biaya pendidikan dan biaya hidup ditanggung sepenuhnya oleh negara, sebuah solusi yang memungkinkannya meringankan beban orang tua sekaligus mengangkat martabat keluarga.
Menatap Indonesia Emas 2045
Saat dimintai keterangan di Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, pada Rabu (29/7/2026), Toriq mengaku tidak pernah membayangkan akan berada di titik ini. Baginya, bisa berdiri di hadapan Presiden dan menerima penyematan pangkat adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.
Keberhasilan ini kini berubah menjadi tanggung jawab baru. Sebagai aparatur pemerintah, ia menegaskan kesiapan mental dan dedikasinya untuk memberikan pengabdian terbaik bagi bangsa. Fokusnya kini tertuju pada kontribusi nyata untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Kisah Toriq memberikan inspirasi nyata bahwa latar belakang ekonomi bukanlah penghalang bagi anak daerah untuk meraih posisi strategis. Pencapaian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa akses terhadap pendidikan kedinasan yang meritokratis mampu menjadi jembatan bagi mobilitas sosial bagi anak-anak petani di pelosok tanah air.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.