Langkah kementerian ini juga menjadi penguat bagi gerakan sekolah ASRI—Aman, Sehat, Resik, dan Indah—yang sedang gencar diterapkan di berbagai daerah. Ketika gawai disingkirkan dari meja kelas, siswa diharapkan lebih aktif berinteraksi dengan teman sebaya.
Mereka dipaksa berkomunikasi langsung, bukan lagi melalui layar. Diskusi di kantin jadi lebih hidup. Permainan di lapangan saat jam istirahat pun bisa kembali ramai.
Tugas berat kini berada di pundak para pendidik di lapangan. Setiap satuan pendidikan diminta mengadopsi aturan ini dengan cara yang paling sesuai dengan kondisi lokal, namun tetap memegang teguh prioritas utama: kenyamanan siswa.
Pihak sekolah didorong menjadi fasilitator bagi anak agar tetap bisa mendapatkan akses informasi yang benar, tanpa harus selalu terpaku pada gawai pribadi mereka sepanjang waktu.
Pemerintah menyadari bahwa teknologi memang tidak bisa dihindari. Tapi, menetapkan batas usia 16 tahun sebagai ambang batas penggunaan gawai adalah bentuk afirmasi bahwa kedewasaan mental siswa dalam mengelola distraksi digital adalah kunci kesuksesan di masa depan. Mu’ti menegaskan bahwa esensi pendidikan dasar adalah pembentukan karakter yang tidak bisa digantikan oleh algoritma aplikasi apapun.
Kini, publik menunggu bagaimana teknis pengawasan di sekolah-sekolah akan dijalankan. Apakah guru akan mengumpulkan gawai setiap pagi? Ataukah sekolah menyediakan loker khusus? Yang jelas, perubahan ini sudah mulai bergulir, menempatkan kembali interaksi manusia sebagai inti dari sebuah proses pembelajaran.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.