BANGKOK — puasa alkohol kembali menggerakkan banyak warga Thailand pada awal Khao Phansa, periode refleksi Buddha selama tiga bulan yang dimulai pada Kamis. Di Samut Sakhon, barat Bangkok, seorang ibu rumah tangga berusia 42 tahun ikut berikrar berhenti minum setelah sebelumnya mengaku sebagai peminum berat.
Perempuan yang tak disebutkan namanya itu mengatakan kebiasaannya dulu sampai membuat anak-anaknya harus membersihkan muntahnya. Tahun ini, ia bergabung lagi dengan ratusan orang di provinsi pesisir tersebut untuk berjanji menahan diri dari alkohol selama masa puasa Buddha.
Puasa alkohol dan dorongan spiritual di Khao Phansa
Kisah perempuan itu menunjukkan mengapa kampanye puasa alkohol di Thailand terus mendapat tempat. Bagi banyak peserta, janji di kuil bukan sekadar target pribadi. Ada ikatan sosial dan spiritual yang ikut bekerja.
Ia mengaku sempat sangat tergoda ketika melihat orang membeli bir atau minuman keras di toko. Namun, ia menahan diri dengan mengingat bahwa masa itu hanya berlangsung tiga bulan. Setelah menjalani periode tersebut pada 2024, ia merasa mampu melakukannya lagi. Tahun ini, ia kembali masuk kampanye.
Di Samut Sakhon, suasana awal Khao Phansa berlangsung meriah. Warga mempersembahkan sesajen untuk para biksu, menampilkan tarian tradisional, lalu berparade di desa dengan salengs—skuter berbak belakang yang biasa dipakai mengangkut kelapa. Mereka membawa poster bergambar hati yang sehat dan tersenyum. Gambarnya sederhana, pesannya keras.
Phayom Raksa, mantan petani kelapa berusia 66 tahun, juga ikut mengucapkan ikrar. Ia berhenti minum sepenuhnya setelah pertama kali terlibat dalam kampanye itu enam tahun lalu. Kepada AFP, ia berkata, “My kids were ashamed of me — their dad got drunk every day and didn’t care about them,” sambil mengakui uangnya habis untuk alkohol.
Kenapa kampanye ini dianggap penting
Thailand punya paradoks yang sulit diabaikan. Lebih dari 90% penduduknya mengidentifikasi diri sebagai penganut Buddha, tetapi negara ini memiliki konsumsi alkohol per kapita tertinggi ketiga di Asia, menurut data World Health Organization atau WHO tahun 2024. Data itu jadi latar mengapa kampanye ini lahir pada 2003.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.