Rabu, 5 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Puasa Alkohol di Thailand, Jutaan Warga Tinggalkan Minuman Keras

Puasa alkohol di Thailand saat warga berikrar di kuil
Warga Thailand mengikuti kampanye puasa alkohol saat Khao Phansa dimulai di Samut Sakhon. (Ilustrasi: AI)

BANGKOK — puasa alkohol kembali menggerakkan banyak warga Thailand pada awal Khao Phansa, periode refleksi Buddha selama tiga bulan yang dimulai pada Kamis. Di Samut Sakhon, barat Bangkok, seorang ibu rumah tangga berusia 42 tahun ikut berikrar berhenti minum setelah sebelumnya mengaku sebagai peminum berat.

Perempuan yang tak disebutkan namanya itu mengatakan kebiasaannya dulu sampai membuat anak-anaknya harus membersihkan muntahnya. Tahun ini, ia bergabung lagi dengan ratusan orang di provinsi pesisir tersebut untuk berjanji menahan diri dari alkohol selama masa puasa Buddha.

Puasa alkohol dan dorongan spiritual di Khao Phansa

Kisah perempuan itu menunjukkan mengapa kampanye puasa alkohol di Thailand terus mendapat tempat. Bagi banyak peserta, janji di kuil bukan sekadar target pribadi. Ada ikatan sosial dan spiritual yang ikut bekerja.

Ia mengaku sempat sangat tergoda ketika melihat orang membeli bir atau minuman keras di toko. Namun, ia menahan diri dengan mengingat bahwa masa itu hanya berlangsung tiga bulan. Setelah menjalani periode tersebut pada 2024, ia merasa mampu melakukannya lagi. Tahun ini, ia kembali masuk kampanye.

Di Samut Sakhon, suasana awal Khao Phansa berlangsung meriah. Warga mempersembahkan sesajen untuk para biksu, menampilkan tarian tradisional, lalu berparade di desa dengan salengs—skuter berbak belakang yang biasa dipakai mengangkut kelapa. Mereka membawa poster bergambar hati yang sehat dan tersenyum. Gambarnya sederhana, pesannya keras.

Phayom Raksa, mantan petani kelapa berusia 66 tahun, juga ikut mengucapkan ikrar. Ia berhenti minum sepenuhnya setelah pertama kali terlibat dalam kampanye itu enam tahun lalu. Kepada AFP, ia berkata, “My kids were ashamed of me — their dad got drunk every day and didn’t care about them,” sambil mengakui uangnya habis untuk alkohol.

Kenapa kampanye ini dianggap penting

Thailand punya paradoks yang sulit diabaikan. Lebih dari 90% penduduknya mengidentifikasi diri sebagai penganut Buddha, tetapi negara ini memiliki konsumsi alkohol per kapita tertinggi ketiga di Asia, menurut data World Health Organization atau WHO tahun 2024. Data itu jadi latar mengapa kampanye ini lahir pada 2003.

Tahun lalu, kampanye puasa Buddha itu mengklaim lebih dari delapan juta peserta. Angka itu menunjukkan gerakan ini bukan sekadar ritual musiman. Ia sudah berubah menjadi gerakan sosial yang cukup besar untuk memengaruhi cara orang memandang minum, terutama di komunitas pedesaan.

Ubolwan Kongsawang, relawan regional dari Stop Drinking Network Thailand, menyebut kampanye ini punya daya dorong yang berbeda dari sekadar ajakan sehat biasa. “When individuals take a pledge before a Buddha image, at a temple, or within their community, they feel bound to honor their word,” katanya. Ia menyebut ada “spiritual anchor” yang membuat orang lebih sulit mengingkari janji.

Kalimat itu menjelaskan kenapa kampanye seperti ini sering lebih efektif daripada imbauan singkat. Janji di depan patung Buddha, di kuil, atau di hadapan komunitas memberi beban moral yang nyata. Tidak ringan.

Dampaknya ke kebiasaan minum dan uang rumah tangga

Pengelola kampanye tahun ini juga mengubah pesan yang mereka dorong. Fokusnya bukan hanya berhenti total, melainkan juga mengurangi minum. Mereka menekankan tiga manfaat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: kesehatan membaik, hubungan dengan orang sekitar lebih baik, dan uang lebih hemat.

Dr. Pongthep Wongwatcharapaiboon, direktur Thai Health Promotion Foundation, lembaga pemerintah, menegaskan, “Our goal is not necessarily total abstinence for everyone.” Ia menambahkan, “Many reduce their consumption and discover the health benefits, which is already a success.”

Di titik ini, dampaknya terasa jelas. Bagi rumah tangga, berkurangnya alkohol berarti sebagian pengeluaran bisa dialihkan ke kebutuhan lain. Bagi komunitas, tekanan sosial untuk minum bisa mulai bergeser, meski pelan. Dan bagi pemerintah, kampanye seperti ini memberi jalur lain untuk menekan konsumsi tanpa sekadar mengandalkan larangan.

Thailand sendiri pada Desember melonggarkan pembatasan lama penjualan alkohol pada sore hari. Aturan itu awalnya dibuat untuk mencegah pegawai pemerintah minum saat jam kerja. Meski begitu, alkohol tetap dilarang pada hari raya keagamaan publik dan sekitar pemilu.

Itu sebabnya pesan kampanye tahun ini juga menyasar budaya minum yang menempel di banyak momen sosial. Satu iklan kampanye menyorot tekanan sosial untuk ikut minum dalam budaya yang membuat alkohol hadir di mana-mana, dari pemakaman sampai festival.

Teera Wacharaprannee, kepala Stop Drinking Network, mengatakan mereka tidak hanya ingin menurunkan angka konsumsi. “We are trying to transform the drinking culture itself, not just reduce individual consumption,” katanya. Ia menambahkan, strategi mereka akan terus berjalan setelah masa puasa Buddha lewat, dengan dukungan untuk desa dan komunitas agar mengurangi minum dalam kehidupan sehari-hari.

Di Samut Sakhon, ikrar itu baru saja diucapkan lagi. Tahun depan, mereka mungkin kembali berdiri di depan patung Buddha yang sama. Dan bagi sebagian peserta, janji itu sudah berubah dari ujian singkat menjadi kebiasaan baru yang terus dijaga.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda