Angka itu menjadi konteks penting mengapa vitamin remaja putri tidak berhenti sebagai agenda kesehatan sekolah semata. Bagi keluarga, pencegahan sejak remaja berarti memperkecil risiko komplikasi saat kelak hamil dan melahirkan. Bagi layanan kesehatan daerah, ini juga berarti mengurangi beban kasus yang sebenarnya bisa ditekan lebih awal.
Langkah antisipasi ini juga memperlihatkan cara kerja pencegahan yang lebih panjang. Dinkes tidak menunggu kasus anemia muncul saat kehamilan, melainkan menyasar masa remaja, ketika kebiasaan makan dan kepatuhan minum suplemen masih bisa dibentuk. Di titik inilah vitamin remaja putri punya bobot lebih dari sekadar tablet harian.
Koordinasi lintas sektor diperluas
Untuk pencegahan jangka panjang, Dinkes Kabupaten Serang mewajibkan konsumsi vitamin dan tablet tambah darah bagi kelompok remaja putri. Kebijakan ini dibarengi dengan penguatan koordinasi lintas sektor agar pesan kesehatan tidak berhenti di fasilitas layanan saja.
Dinkes menggandeng Kantor Urusan Agama, pihak sekolah, hingga Majelis Ulama Indonesia untuk memberi edukasi kesehatan dan pemahaman tentang risiko pernikahan di bawah umur. Kolaborasi ini diharapkan membuat pesan pencegahan lebih mudah masuk ke keluarga dan lingkungan sosial remaja.
Soalnya, persoalan anemia pada remaja putri tidak berdiri sendiri. Ia bertemu dengan pola makan, kebiasaan enggan minum suplemen, dan keputusan menikah terlalu dini. Begitu tiga hal itu bertemu, risiko untuk kesehatan ibu ikut naik, dan layanan kesehatan daerah harus menanggung akibatnya.
Di Serang, Dinkes memilih menekan risiko itu dari hulu. Vitamin remaja putri, tablet tambah darah, dan edukasi pernikahan usia muda kini berjalan bersamaan, dengan target sederhana tapi berat: mencegah kasus yang sebenarnya bisa dihindari sejak awal.
“Padahal, vitamin tidak membuat gemuk dan justru sangat penting agar tubuh mereka tidak mengalami anemia,” kata Efrizal.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.