JAKARTA — penduduk miskin Jakarta turun menjadi 432,62 ribu orang pada Maret 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat jumlah itu berkurang 6,5 ribu orang dibandingkan September 2025 yang sebanyak 439,12 ribu orang.
Penurunan itu membuat persentase kemiskinan di DKI Jakarta berada di 3,96 persen pada Maret 2026. Angka ini turun 0,07 persen poin dari September 2025, sekaligus menempatkan Jakarta sebagai provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah ketiga secara nasional setelah Bali dan Kalimantan Selatan.
Penduduk miskin Jakarta turun, tapi belum pulih penuh
Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menyebut Jakarta sempat berada di tingkat tiga persen sebelum pandemi COVID-19. Kini, kata dia, angka kemiskinan sudah kembali ke kisaran tiga persen, meski belum pulih penuh.
"Sebelum pandemi (COVID-19) Jakarta pernah berada di tingkat tiga persen, dan tingkat kemiskinan kembali berada pada kisaran tiga persen, meskipun belum kembali secara pulih penuh," kata Kadarmanto di Jakarta, Rabu.
Ucapan itu memberi gambaran sederhana tapi penting: perbaikan sudah terjadi, namun ruang pemulihan masih terbuka. Buat warga, terutama rumah tangga berpendapatan rendah di Jakarta, arah pergerakan ini berarti tekanan biaya hidup belum hilang sepenuhnya, meski data BPS menunjukkan kondisi yang lebih baik dibandingkan September 2025.
Garis kemiskinan Jakarta dan hitungan rumah tangga
BPS DKI Jakarta juga mencatat garis kemiskinan di ibu kota pada Maret 2026 sebesar Rp925.525 per kapita per bulan. Dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin yang tercatat pada periode itu sebanyak 4,89 orang, garis kemiskinan per rumah tangga miskin di DKI mencapai Rp4.525,817 per bulan untuk satu rumah tangga miskin.
Angka garis kemiskinan ini penting karena menunjukkan batas minimum pengeluaran yang dipakai BPS untuk membaca status kemiskinan. Saat batas itu bergerak, kebijakan sosial ikut diuji. Pemerintah daerah, misalnya, perlu menimbang apakah bantuan, peluang kerja, dan akses layanan dasar sudah cukup menahan warga agar tidak jatuh lebih dalam.
Di level nasional, posisi Jakarta juga menarik.
BPS menyebut tingkat kemiskinan DKI Jakarta menempati urutan ketiga terendah secara nasional, setelah Bali yang mencatat persentase penduduk miskin terendah di Indonesia sebesar 3,44 persen, lalu Kalimantan Selatan dengan tingkat kemiskinan 3,63 persen.
Artinya, Jakarta memang tampil lebih baik dari banyak daerah lain, tetapi tetap menyisakan jarak dari dua provinsi teratas itu.
Penurunan kemiskinan terjadi hampir di seluruh wilayah
BPS mencatat penurunan tingkat kemiskinan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia pada Maret 2026. Secara nasional, jumlah penduduk miskin turun menjadi 22,93 juta orang dari 23,36 juta orang.
Data itu menempatkan Jakarta dalam arus penurunan yang lebih luas. Namun, karakter ibu kota membuat setiap pergeseran angka punya bobot berbeda. Biaya hidup tinggi, mobilitas penduduk besar, dan ketimpangan pendapatan yang mudah terasa di lapangan membuat angka 3,96 persen bukan sekadar statistik, melainkan sinyal tentang daya tahan ekonomi rumah tangga di kota ini.
Bagi pembaca, kabar ini juga memberi petunjuk tentang arah kebijakan ke depan. Selama garis kemiskinan di Jakarta masih bergerak di atas pengeluaran harian sebagian warga, perhatian pada pekerjaan, upah, dan perlindungan sosial akan tetap jadi soal utama. Dan BPS, lewat data Maret 2026, menunjukkan Jakarta masih berjalan di jalur pemulihan yang belum selesai.
Rincian berikutnya akan bergantung pada bagaimana Pemprov DKI membaca data ini dan apakah tren penurunan yang sama bisa bertahan sampai periode pengukuran berikutnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.