Sabtu, 8 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Noma Dibuka Kembali di Copenhagen di Bawah Kepemimpinan Baru

Noma dibuka kembali dengan fokus kesejahteraan staf
Noma dibuka kembali di Copenhagen dengan kepemimpinan baru dan menu yang lebih dinamis. (Ilustrasi: AI)

COPENHAGEN — Noma dibuka kembali di Copenhagen pekan depan di bawah kepemimpinan baru, setelah René Redzepi mundur dari operasional harian usai tuduhan kekerasan fisik dan psikologis yang menyeret nama restoran legendaris itu ke sorotan internasional.

Pablo Soto, yang sudah bekerja di Noma hampir satu dekade, kini memimpin dapur sebagai executive head chef. Ia menegaskan restoran itu tetap sama, tetapi arah kerjanya berubah cukup besar. Menu bulanan yang baru akan menggantikan model musiman lama, sementara perhatian pada kesejahteraan staf naik ke posisi yang jauh lebih penting.

Noma dibuka kembali dengan kepemimpinan baru

Di balik persiapan pembukaan ulang, suasana di Noma tidak sepenuhnya lepas dari bayang-bayang tahun lalu. Restoran yang kerap disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia itu sempat dirancang untuk berubah menjadi food laboratory setelah ditutup pada 2024.

Namun, setelah dampak internasional dari tuduhan terhadap Redzepi membesar, rencana itu dibatalkan dan keputusan diambil untuk membuka kembali restoran di Copenhagen.

Soto berkata kepada The Guardian, “It’s the same Noma. We are simply back home – that is what is different.” Kalimat itu menggambarkan arah baru yang diambil restoran: kembali ke rumah, tapi dengan cara kerja yang tidak sama seperti sebelumnya.

Redzepi sendiri sudah meminta maaf kepada “those who have suffered under my leadership” dan menyatakan ia tidak lagi terlibat dalam pengelolaan harian. Meski begitu, Soto menegaskan sang pendiri masih akan memberi pengaruh kreatif. “That doesn’t mean he is banished from his company. We actually want his input,” ujarnya.

Dari tuduhan kekerasan ke reset besar

Kasus yang membayangi Noma bermula ketika Redzepi dituduh menciptakan kondisi kerja yang abusif antara 2009 dan 2017. Dalam laporan itu, muncul tuduhan seperti memukul, berteriak, dan mempermalukan karyawan di depan umum. Salah satu mantan pegawai yang berbicara kepada The New York Times mengatakan pergi bekerja “felt like going to war”.

Redzepi menanggapi dengan pengakuan yang lebih hati-hati. “Although I don’t recognise all details in these stories, I can see enough of my past behaviour reflected in them to understand that my actions were harmful to people who worked with me.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda