NEW YORK — S&P 500 menutup perdagangan pada rekor tertinggi pada 7 Agustus setelah data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan ekonomi Negeri Paman Sam justru memangkas 23.000 pekerjaan pada Juli. Pasar langsung membaca sinyal itu sebagai alasan bahwa Federal Reserve tidak akan agresif menaikkan suku bunga pada rapat September.
Kenaikan indeks besar Wall Street juga terjadi di tengah musim laporan kinerja yang kuat. Dalam hitungan mingguan, S&P 500, Nasdaq, dan Dow sama-sama menutup pekan dengan kenaikan tajam, sementara imbal hasil obligasi Treasury dan harga minyak bergerak lebih rendah karena harapan meredanya konflik Iran ikut menekan kekhawatiran inflasi.
S&P 500 ditopang data kerja dan ekspektasi suku bunga
Departemen Tenaga Kerja AS menyebut nonfarm payrolls turun 23.000 pada Juli. Angka itu jauh di bawah perkiraan ekonom yang dihimpun Reuters, yang memperkirakan penambahan 80.000 pekerjaan.
Revisi data dua bulan sebelumnya juga dipangkas tajam. Tingkat pengangguran turun ke 4,1 persen pada Juli dari 4,2 persen pada Juni, tetapi penurunan itu terjadi karena lebih banyak pekerja keluar dari angkatan kerja.
Pasar obligasi dan saham segera menyesuaikan posisi. Menurut CME FedWatch, ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed berikutnya turun ke sekitar 44 persen, dari 55 persen pada sesi sebelumnya dan 67 persen sepekan lalu.
Musim laba ikut menjaga reli saham
Tekanan di pasar tidak datang hanya dari data tenaga kerja. Harapan atas kemajuan kesepakatan damai dalam perang Iran membantu menahan harga minyak, meredakan kekhawatiran inflasi yang biasanya membuat investor waspada terhadap peluang kenaikan suku bunga.
Di saat yang sama, musim laporan keuangan masih memberi amunisi ke saham. Dari 436 perusahaan di S&P 500 yang sudah melaporkan hasil hingga Jumat pagi, 85,1 persen melampaui ekspektasi analis, menurut data LSEG. Angka itu jauh di atas rata-rata 68 persen sejak 1994.
Tom Siomades, kepala ekonom pasar di AE Wealth Management di Topeka, Kansas, mengatakan pasar justru melaju karena laba perusahaan sangat kuat. “You probably have to lower rates to kind of stimulate job growth, but if you lower rates, you’re going to also stimulate inflation.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.