Rabu, 19 Agustus 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Yield Obligasi Melonjak di Empat Negara, Wall Street Mulai Rentan Aksi Jual

Yield Obligasi Melonjak di Empat Negara, Wall Street Mulai Rentan Aksi Jual
Yield Obligasi Melonjak di Empat Negara, Wall Street Mulai Rentan Aksi Jual

Lantai bursa Wall Street kini bergetar hebat. Indeks utama di New York kembali terperosok selama tiga sesi perdagangan berturut-turut hingga Selasa (18/8) waktu setempat, meninggalkan para investor dalam kecemasan mendalam.

Pemicunya bukan sekadar spekulasi biasa, melainkan lonjakan tajam imbal hasil atau yield obligasi pemerintah di empat negara besar yang mencetak rekor tertinggi dalam puluhan tahun.

Kondisi ini memaksa para pengelola dana kakap untuk berpikir ulang. S&P 500 tertekan 0,69 persen dan berakhir di posisi 7.691,76. Nasib lebih nahas menimpa Nasdaq Composite yang terkoreksi cukup dalam sebesar 1,33 persen ke angka 26.289,71.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average tergelincir 116,38 poin atau sekitar 0,22 persen, ditutup pada level 53.343,40. Suasana di lantai bursa terasa berat.

Gejolak Yield Global yang Menular

Ketegangan pasar tidak lagi terlokalisasi di Amerika Serikat. Para investor kini menatap ngeri pada obligasi Treasury AS bertenor 30 tahun yang melesat ke level tertinggi dalam 19 tahun terakhir. Ini bukan anomali tunggal. Gelombang panas di pasar surat utang ini menyebar cepat ke berbagai belahan dunia.

Jepang mencatatkan rekor paling mencolok. Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun di Negeri Sakura melonjak hingga menyentuh posisi tertinggi dalam tiga dekade. Sementara itu, Eropa tidak luput dari dampak.

Jerman melihat imbal hasil obligasi 30 tahun mereka menembus level tertinggi sejak 2011, disusul Prancis yang mencatat posisi puncak serupa sejak 2008. Angka-angka ini menjadi sinyal bahaya bagi para pelaku pasar yang terbiasa dengan era suku bunga rendah.

Bayang-bayang Energi dan Geopolitik

Harga minyak mentah dunia ikut memanaskan situasi. Kekhawatiran akan inflasi yang kembali membandel mencuat seiring dengan kenaikan harga energi. Kontrak berjangka minyak mentah AS saja sudah menguat 0,5 persen menjadi US$ 84,94 per barel pada Selasa kemarin. Energi yang mahal biasanya berujung pada biaya operasional perusahaan yang membengkak.

Situasi semakin runyam akibat tensi geopolitik di Timur Tengah yang tak kunjung mendingin. Harapan pasar akan sebuah dialog damai pupus seketika setelah Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan tegas melalui platform Truth Social. Ia menegaskan tidak ada rencana perundingan dengan Iran.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair