Minggu, 9 Agustus 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Krisis Privasi: Saat Kacamata Pintar hingga TV Mulai Mengintai

Kacamata pintar yang memiliki kemampuan merekam dan mengancam privasi
Perangkat pintar yang dilengkapi teknologi pengawasan kini menjadi kekhawatiran baru bagi privasi konsumen di ruang publik. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Era perangkat pintar kini membawa tantangan baru yang mengkhawatirkan bagi kehidupan sehari-hari. Berbagai gawai populer, mulai dari televisi pintar, kacamata berbasis kecerdasan buatan (AI), hingga perangkat audio nirkabel, kini memiliki kemampuan untuk merekam dan memantau aktivitas pengguna tanpa adanya persetujuan eksplisit dari pihak lain di sekitarnya.

Fenomena ini menyoroti pergeseran tren yang disebut sebagai normalisasi pengawasan konsumen.

Lauren Hendry Parsons, direktur di Mozilla Foundation, menyebut bahwa teknologi kini dikemas dengan tampilan menarik, seperti kacamata modis atau *earbuds* berwarna cerah, yang membuat risiko privasi menjadi tidak kasatmata.

Kondisi ini membuat siapa saja yang berada di sekitar perangkat tersebut menjadi subjek data tanpa memiliki akses kendali atau pilihan untuk menolak.

Normalisasi Pengawasan dalam Gawai

Sebelumnya, pengawasan teknologi umumnya terbatas pada perangkat rumah tangga seperti *smart speaker* yang posisinya tetap di dalam ruangan. Namun, kini pengawasan bersifat mobile.

Parsons menyoroti adanya tren *chicification* di mana perilaku pengawasan dikemas sedemikian rupa sehingga terlihat keren di media sosial. Hal ini mengubah cara pandang masyarakat terhadap perangkat yang mampu merekam percakapan atau mengawasi ruang privat.

Televisi pintar LG terbaru misalnya, kini mewajibkan pengguna untuk memberi tahu tamu di rumah guna mematuhi hukum penyadapan. Di sisi lain, *earbuds* terbaru dari Nothing menyertakan fitur rekam panggilan yang dianggap menyerupai peretasan telepon dalam kemasan yang estetis.

Begitu pula kacamata pintar dari Meta yang meski memiliki indikator lampu, sering kali memicu penolakan publik karena potensi penggunaan yang tidak etis oleh pengguna di ruang publik.

Bagi konsumen, bahaya nyata muncul karena risiko data kini dialihkan sepenuhnya kepada pengguna, bukan ditanggung oleh perusahaan teknologi.

Ketika sebuah perangkat mampu merekam secara unobtrusif, orang yang berada di meja makan atau lawan bicara dalam panggilan telepon tidak lagi memiliki ruang untuk menjaga privasinya. Mereka dipaksa menjadi data subjek tanpa ada cara nyata untuk keluar dari lingkaran pengumpulan data tersebut.

Pentingnya Prinsip Privasi Sejak Desain

Parsons menekankan pentingnya konsep *privacy by design* yang memastikan privasi menjadi standar bawaan sebuah perangkat, bukan fitur tambahan.

Produk yang benar-benar menjaga privasi seharusnya memberikan kontrol penuh, membatasi pengumpulan data, serta menetapkan pengaturan yang masuk akal bagi pengguna maupun orang di sekitar.

Dalam praktiknya, perusahaan sering hanya berfokus pada pemilik perangkat, sementara mengabaikan hak privasi orang lain yang tidak sengaja masuk dalam jangkauan sensor gawai tersebut.

Kondisi ini menuntut kesadaran kritis dari konsumen sebelum mengadopsi teknologi yang melibatkan pengumpulan data masif. Menuntut standar keamanan yang lebih ketat dari produsen gawai adalah langkah awal untuk mengembalikan kendali atas ruang pribadi yang kian menyempit.

Tanpa adanya transparansi dan mekanisme untuk menolak, teknologi yang semestinya mempermudah hidup justru berisiko menjadi instrumen pengawasan yang melanggar batas kenyamanan bersama.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 9 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair