Minggu, 9 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Pakar Militer Ini Sebut Arab Saudi dan Turki Tak Bisa Andalkan Aliansi Tradisional Pimpinan AS

Pakar Militer Ini Sebut Arab Saudi dan Turki Tak Bisa Andalkan Aliansi
Pakar Militer Ini Sebut Arab Saudi dan Turki Tak Bisa Andalkan Aliansi

RIYADH — Pakar militer Harlan Ullman menilai Arab Saudi dan Turki tak bisa lagi mengandalkan aliansi tradisional pimpinan AS setelah muncul pakta pertahanan baru bersama Pakistan. Ia menyebut perubahan sikap Washington di masa jabatan kedua Donald Trump ikut mendorong sekutu-sekutu lama mencari jalur lain.

Pergeseran itu tidak kecil. Bagi Timur Tengah, Teluk, dan jaringan keamanan yang selama ini ditopang AS, sinyalnya jelas: kepercayaan mulai retak, dan para mitra Washington bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan.

Kepercayaan ke Washington mulai turun

Ullman, direktur The Killowen Group sekaligus pensiunan perwira senior angkatan laut, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa arah kebijakan Trump membuat sekutu merasa harus berdiri sendiri. “Pemerintahan Trump telah menyatakan bahwa sekutu harus mengurus diri mereka sendiri,” ujar Ullman.

Ia menambahkan, “Yang jelas bagi saya adalah sekutu-sekutu kita sedang mencari alternatif lain.” Menurut dia, Arab Saudi menjadi contoh paling kentara karena sikap Trump yang berubah-ubah dan terkesan impulsif terkait konflik dengan Iran memunculkan keraguan atas konsistensi Amerika.

“Landasan aliansi kita—baik di Timur Tengah, Teluk Persia, dengan sekutu NATO, maupun dengan Asia—jelas telah terguncang,” kata Ullman. Kalimat itu menegaskan bahwa yang berubah bukan cuma hubungan satu negara dengan AS, melainkan fondasi keamanan yang lebih luas.

Pakta Saudi, Turki, dan Pakistan dibaca sebagai sinyal baru

Pakta pertahanan baru antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menjadi salah satu tanda paling nyata dari pergeseran itu. Dalam laporan The Straits Times, perjanjian yang ditandatangani di Mekah pada 7 Agustus itu menyatakan serangan bersenjata terhadap salah satu pihak akan dipandang sebagai serangan terhadap semua.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, seperti dikutip Anadolu, mengatakan perjanjian itu secara teknis setara dengan Pasal 5 NATO. Ia juga menyebut pakta tersebut bukan diarahkan ke Iran atau negara lain, melainkan dimaksudkan sebagai janji umum untuk menopang keamanan tiga negara itu.

Fidan bahkan mengatakan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ingin melihat aliansi ini meluas, dan Mesir disebut sebagai calon potensial.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda