Di sinilah letak pentingnya. Pakta ini menunjukkan negara-negara Muslim besar di kawasan tidak mau hanya bergantung pada payung keamanan lama. Mereka mulai menata opsi sendiri. Cepat. Dan ini mengubah cara membaca peta kekuatan regional.
Efeknya terasa sampai ke energi dan jalur pelayaran
Dampaknya tidak berhenti pada diplomasi. Ketegangan di kawasan sudah berimbas ke jalur energi strategis seperti Selat Hormuz. Detik dan CNN Indonesia melaporkan adanya serangan terhadap kapal tanker milik ADNOC asal Uni Emirat Arab saat melintas di selat itu, sementara Arab Saudi mengecam tindakan yang dinilai mengancam keselamatan pelayaran maritim dan keamanan pasokan energi global.
Arab Saudi menilai serangan semacam itu melanggar hukum internasional dan mengancam stabilitas kawasan. Konteks ini membuat pakta pertahanan baru terdengar lebih dari sekadar seremoni. Bagi pasar energi, tiap eskalasi di sekitar Hormuz cepat terasa ke harga, pengiriman, dan rasa aman jalur dagang.
Dalam laporan Al Jazeera, Ullman mengaitkan keraguan sekutu terhadap AS dengan gaya Trump yang tidak konsisten dalam menghadapi Iran. Dari sudut pandang keamanan kawasan, itu berarti para mitra Washington akan terus membaca ulang siapa yang benar-benar bisa diandalkan saat situasi memanas.
Kalau arah ini berlanjut, pakta Saudi-Turki-Pakistan bisa menjadi titik awal susunan keamanan baru di Timur Tengah. Ullman menutup penilaiannya dengan kalimat yang tajam: “Yang jelas bagi saya adalah sekutu-sekutu kita sedang mencari alternatif lain.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.