Senin, 10 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Belanja pendidikan India di bawah standar 15% UNESCO

Belanja pendidikan India di bawah standar UNESCO
Belanja pendidikan India belum mencapai standar 15% UNESCO. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — belanja pendidikan India masih berada di bawah standar 15% UNESCO, meski pendanaannya sudah sejalan dengan standar GDP. Temuan ini menyorot jarak antara target fiskal di atas kertas dan hasil yang dirasakan di sekolah.

Masalahnya tidak berhenti di angka anggaran. Tingkat penyelesaian sekolah menengah di India juga tertinggal dari pedoman nasional dan UNESCO, sehingga manfaat dari banyaknya program pendidikan belum sepenuhnya terlihat di jalur kelulusan siswa.

Standar ada, hasilnya belum ikut naik

Perkembangan ini muncul saat sejumlah negara mulai menggeser perhatian dari target finansial pendidikan ke hasil yang lebih konkret. India berada di persimpangan itu. Pendanaan memang bergerak dalam koridor tertentu, tapi sasaran belanja publik tetap belum terpenuhi.

Di lapangan, pola seperti ini biasanya membuat evaluasi kebijakan jadi rumit. Anggaran bisa tampak sehat di satu sisi, namun capaian pendidikan belum otomatis ikut membaik. Itulah celah yang kini terlihat jelas di India.

Program pendidikan India sendiri sudah menjangkau jutaan siswa. Tapi, sebaran program yang luas belum menutup persoalan lama yang masih membayangi sektor ini. Tantangannya bukan sekadar menambah intervensi, melainkan memastikan hasilnya benar-benar naik di titik yang paling krusial.

Kelulusan sekolah menengah jadi titik rawan

Data yang disorot sumber menunjukkan sekolah menengah masih menjadi titik rawan. Ketika penyelesaian jenjang ini tertinggal, dampaknya menjalar ke jenjang berikutnya, juga ke kesiapan siswa masuk dunia kerja atau pendidikan lanjutan. Bagi pembuat kebijakan, ini sinyal bahwa ukuran keberhasilan tidak cukup dibaca dari besar kecilnya belanja.

Kondisi itu juga menjelaskan kenapa standar UNESCO sering dipakai sebagai pembanding. Bukan semata soal memenuhi angka, melainkan soal arah kebijakan. Jika belanja pendidikan tidak bergerak seiring hasil belajar dan kelulusan, tekanan publik biasanya akan mengarah ke efektivitas program, bukan hanya besar anggaran.

Bagi sektor pendidikan di India, pesan dari perbandingan ini cukup tegas. Program boleh banyak, cakupannya luas, dan pendanaan mengikuti standar tertentu. Tapi selama penyelesaian sekolah menengah masih tertinggal, pemerintah tetap harus menjawab pertanyaan yang lebih sulit: bagian mana dari sistem yang belum bekerja.

Arah kebijakan berikutnya

Ke depan, sorotan kemungkinan bergeser ke kualitas pengeluaran, bukan sekadar besaran dana. India masih punya modal dari jaringan program yang sudah berjalan. Yang diuji berikutnya adalah apakah modal itu bisa diubah menjadi kelulusan yang lebih kuat dan hasil belajar yang lebih merata.

Di titik itu, belanja pendidikan bukan lagi cuma soal memenuhi target administrasi. Ia jadi ukuran apakah kebijakan benar-benar mendorong siswa bertahan sampai tamat, terutama di jenjang menengah yang selama ini paling rentan tertinggal.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda