JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah melonjak signifikan pada Minggu, 28 September 2026. Berdasarkan pantauan Google Finance pada pukul 10.09 UTC, 1 USD tercatat mencapai Rp17.991,63, mendekati level psikologis Rp18.000.
Kenaikan ini bukan anomali. Data dari berbagai sumber menunjukkan tren pelemahan rupiah yang konsisten hari ini. Kurs tengah JISDOR Bank Indonesia per 28 September 2026 berada di Rp17.917. Sementara itu, TradingView secara langsung pada pukul 09.30 WIB menunjukkan angka Rp17.912,0.
Pergerakan di pasar spot juga mengkhawatirkan. Menurut Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, nilai tukar rupiah melemah 37 poin (0,21%) menjadi Rp17.940 dari posisi Jumat sebelumnya di Rp17.903. Bahkan, menjelang siang, FXStreet melaporkan pelemahan lebih lanjut hingga 85 poin (0,48%) menjadi Rp17.965, dengan JISDOR juga mencatat angka yang sama.
Finnhub menunjukkan harga terkini USD di Rp17.988,5. Bank Indonesia sendiri mencatat kurs transaksi jual di Rp18.006,58 dan beli di Rp17.827,42, dengan kurs tengah Rp17.898. Data dari kurs.web.id juga senada, dengan kurs jual Rp17.987,5 dan beli Rp17.808,5.
Rupiah Tertekan, Ini Penyebabnya
Pelemahan rupiah hari ini didorong oleh setidaknya lima faktor utama, seperti dijelaskan oleh FXStreet dan Pintu News:
- Harga Minyak Melonjak: Kenaikan harga minyak mentah global memicu kebutuhan valuta asing (valas) untuk impor, terutama dengan harga WTI naik 2,21% ke US$94,45 dan Brent naik 2,71% ke US$107,15 pada pukul 14.20 WIB. Meskipun Pertalite dan Biosolar dikunci hingga akhir 2026, BBM nonsubsidi mengikuti harga pasar.
- Imbal Hasil Treasury AS Naik: Imbal hasil Treasury AS 10 tahun mencapai 5,209% dan 2 tahun di 4,91%. Kenaikan ini mengikis selisih suku bunga Indonesia, mendorong arus keluar portofolio asing dan menekan rupiah, diperparah neraca perdagangan yang lemah seperti analisis MUFG.
- The Fed Hawkish: Proyeksi CME Group FedWatch menunjukkan peluang 65% Federal Reserve akan menaikkan suku bunga akhir Oktober 2026. Ini membuat dolar AS menjadi aset aman dan mendorong investor memburu USD di tengah sentimen risk-off geopolitik AS-Iran.
- Neraca Perdagangan & Komoditas: Penurunan harga komoditas utama seperti batu bara, sawit, dan nikel menyebabkan pasokan USD di dalam negeri berkurang, yang turut berkontribusi pada pelemahan rupiah.
- Stabilitas BI Terus Diuji: Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar melalui BI Rate dan intervensi di JISDOR. Namun, volatilitas yang tinggi tetap menjadi tantangan serius.
Dampak Kenaikan Dollar bagi Konsumen
Kenaikan nilai tukar dolar ini akan berdampak langsung pada masyarakat. Harga barang-barang impor yang dibeli melalui marketplace luar negeri akan menjadi lebih mahal. Biaya langganan aplikasi atau layanan digital berbayar dalam USD seperti Netflix, Spotify, atau iCloud juga akan meningkat. Bagi yang memiliki tabungan dalam bentuk USD, ini adalah keuntungan, namun bagi yang berencana berlibur ke luar negeri atau menukar uang ke USD, biayanya akan lebih tinggi.
Di pasar mata uang lain, Euro melemah 0,1% menjadi $1,1379, Poundsterling berada di $1,3232, Yen Jepang di 157,7 per USD, dan Dolar Australia di $0,7017, seperti dilaporkan Investor.id. Hal ini menunjukkan kekuatan dolar AS yang merata terhadap mata uang global lainnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.