Pelemahan harga batubara dunia biasanya berdampak langsung pada pergerakan saham-saham perusahaan batubara yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham-saham yang paling sering terdampak antara lain BUMI, ADRO, ITMG, dan PTBA. Misalnya, pada hari ini, saham BUMI terpantau stagnan di level Rp187, meskipun harga batubara global mengalami penurunan tipis. Investor nampaknya masih menanti katalis baru yang dapat menggerakkan sektor ini.
Indonesia sendiri merupakan eksportir batubara terbesar di dunia, dengan volume ekspor mencapai sekitar 550 juta ton per tahun. Fluktuasi harga global secara langsung memengaruhi pendapatan negara dan kinerja perusahaan-perusahaan batubara domestik.
Proyeksi Harga Batubara 2026 dan Jenis Batubara
Analis dari BMI telah merevisi naik proyeksi harga Newcastle rata-rata untuk tahun 2026 menjadi $100 per ton. Di sisi lain, Rystad Energy memproyeksikan adanya tambahan permintaan batubara termal sebanyak 70 juta ton di Asia pada tahun 2026. Ini disebabkan oleh krisis LNG yang mendorong negara-negara seperti Jepang (+11%) dan Korea Selatan (+50%) untuk meningkatkan penggunaan batubara.
Perlu dipahami bahwa terdapat beberapa jenis batubara dengan perbedaan harga dan kegunaan:
- Thermal Coal (Batubara Termal): Digunakan untuk pembangkit listrik, dengan harga saat ini sekitar $127,85 per ton.
- Metallurgical Coal (Coking Coal): Digunakan untuk industri baja, dengan kisaran harga $200-300 per ton.
- Harga Batubara AS: Central Appalachian sekitar $82 per ton, sementara Powder River Basin sekitar $15 per ton.
Disclaimer: Data bersumber dari ICE Futures dan OilPriceAPI. Bukan rekomendasi investasi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.