Selasa, 11 Agustus 2026 WIB
BREAKING
POLITICS

Iran Dikabarkan Batasi Kapal Perang AS di Selat Hormuz

Iran Dikabarkan Batasi Kapal Perang AS di Selat Hormuz
Iran Dikabarkan Batasi Kapal Perang AS di Selat Hormuz

Iran disebut berupaya menekan kehadiran militer Amerika Serikat di Teluk Persia lewat kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz. The Wall Street Journal melaporkan, Teheran berkomitmen mencegah kapal perang Angkatan Laut AS melintas di jalur strategis itu.

Laporan yang dikutip Kantor Berita Mehr pada Sabtu, 8 Agustus 2026, itu menempatkan Selat Hormuz kembali di pusat tarik-menarik kekuatan. Jalur sempit itu bukan sekadar lintasan kapal. Di sana, kepentingan militer dan politik bertemu langsung.

WSJ menilai langkah Iran sejalan dengan tujuan jangka panjang Teheran untuk membatasi kehadiran militer AS yang sudah berlangsung puluhan tahun di kawasan Teluk Persia. Surat kabar Amerika itu juga menyebut kebijakan tersebut menunjukkan arah baru yang makin tegas dari Iran.

Di dalam laporan itu, WSJ menulis bahwa dalam kerangka kesepakatan membuka kembali jalur perairan Hormuz, Iran akan mencegah kapal perang Angkatan Laut AS melewati selat tersebut. Pembatasan itu disebut bukan langkah lepas konteks, melainkan bagian dari strategi yang lebih besar.

The Wall Street Journal juga menyoroti peran kelompok garis keras di struktur kepemimpinan Iran. Menurut laporan itu, menguatnya kelompok ini tercermin dari sikap Tehran yang makin keras dalam isu Selat Hormuz dan kehadiran Amerika di kawasan.

Sinyal dari Teheran muncul setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, pada 8 Agustus 2026, menegaskan pembukaan kembali Selat Hormuz tidak bergantung pada negosiasi Iran-Oman. Juru Bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi mengatakan pembukaan selat itu hanya akan terjadi jika Amerika Serikat menerima syarat yang sudah ditetapkan Iran.

Mohebbi menyampaikan pernyataan itu di Provinsi Hormozgan, dalam rangka Hari Jurnalis. Ia menegaskan pembukaan Selat Hormuz punya mekanisme hukum dan pertahanan sendiri, terpisah dari proses negosiasi dengan Oman.

Pernyataan keras itu datang di saat Iran juga terus membenahi kemampuan pertahanannya. Amir Shakouri, Kepala Kantor Studi dan Riset Pasukan Pertahanan Udara Angkatan Darat Iran, pada 9 Agustus 2026 menjelaskan bahwa Iran sudah mengubah doktrin pertahanan udaranya menjadi sistem mandiri, terpadu, dan berlapis setelah Revolusi Islam serta perang Iran-Irak.

Shakouri juga menyebut perang terbaru telah menguji langsung doktrin dan teknologi pertahanan udara Iran, saat negara itu menghadapi serangan dengan teknologi yang makin cepat dan berbasis kecerdasan buatan. Ujian berikutnya kini bergeser ke laut. Dan ke Selat Hormuz.

(EV)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda