Pakistan dan Saudi Arabia tidak mengakui Israel dan tak punya hubungan resmi dengan negara itu, sementara Turki memang mengakui Israel, tetapi relasinya sedang renggang akibat perang di Gaza. Erdogan bahkan menyebut tindakan Israel di Suriah dan Lebanon sebagai ancaman bagi keamanan Turki.
Dalam tulisan opini di Al Jazeera, Khalid al-Jaber dari Middle East Council on Global Affairs menyebut tujuan pakta ini bukan kemenangan militer, melainkan pencegahan hegemoni.
“The Mecca pact is best understood as an early attempt to build a third pole — a bloc that does not need to fight either power, but one that has enough weight to deny either a monopoly over the region,” tulisnya.
Kalimat itu memperjelas arah pembacaan yang kini berkembang: Pakt Mecca ingin mencegah kawasan ditentukan hanya oleh dua kutub, Israel dan Iran.
Bagi Israel, pakta ini juga dipandang membawa konsekuensi politik. Oshrit Birvadker dari Jerusalem Institute for Strategy and Security menulis di Israel Hayom bahwa perkembangan ini menambah tantangan besar bagi Israel, mendorong prospek normalisasi dengan Riyadh makin jauh, dan memotong visi “new Middle East”. Ia juga melihat aliansi trilateral itu akan memperkeras rivalitas Turki-Israel.
Soal daya tahan aliansi dan hitung-hitungan kekuatan
Walau ramai dibaca sebagai poros baru, sejumlah sumber menekankan bahwa Pakt Mecca belum otomatis berarti satu negara akan turun berperang demi negara lain. Seorang pejabat Turki yang dikutip Reuters mengatakan pakta itu murni defensif, terbuka bagi tetangga kawasan yang ingin bergabung, dan tidak menggantikan perjanjian bilateral maupun multilateral yang sudah ada.
Pejabat yang sama juga menegaskan perjanjian ini tidak ditujukan kepada satu aktor atau ancaman tertentu. Meski begitu, pembacaan di lapangan tetap mengarah ke Iran dan Israel karena keduanya punya pengaruh besar dalam arsitektur keamanan Timur Tengah saat ini.
Andreas Krieg, dosen keamanan di King’s College London, mengatakan kepada AFP bahwa ketiga negara saling melengkapi dengan cara yang tidak biasa. Saudi Arabia punya kekayaan minyak, tetapi teknologi pertahanannya terbatas dan selama ini bergantung pada AS.
Turki membawa teknologi dan kapasitas produksi, sementara Pakistan punya angkatan bersenjata, institusi militer, dan daya tangkal nuklir. Pakistan juga jadi satu-satunya dari tiga penandatangan yang memiliki senjata nuklir.
Krieg menambahkan, Turki butuh pasar dan investasi, sementara Pakistan butuh pembiayaan dan kemampuan industri. Komposisi itu membuat pakta ini lebih mirip kalkulasi jangka panjang ketimbang janji perang langsung.
Di Teheran, nada yang muncul justru tidak terlalu keras.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menulis di platform X bahwa “when Muslims stand together, we can face every challenge by malicious outsiders head-on.” Sebagian pengamat Iran membaca ini sebagai sinyal bahwa Teheran masih ingin mendorong AS keluar dari kawasan.
Tapi di kalangan politik Iran lain, muncul pandangan lebih kritis: Saudi Arabia disebut tidak benar-benar aman.
Yang jelas, pakta ini sudah mengubah cara kawasan dibaca. Meski baru ditandatangani, efek politiknya terasa lebih dulu. Dan satu hal kini menonjol: Riyadh, Ankara, dan Islamabad sedang mengirim pesan bahwa peta keamanan Timur Tengah tak boleh lagi ditentukan hanya oleh Iran atau Israel.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.