Kamis, 13 Agustus 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Dokter Cheney: Kesehatan Trump yang Misterius Perlu Dijawab

Ilustrasi kesehatan Trump dan sorotan soal kondisi fisiknya
Sorotan atas kesehatan Trump kembali menguat setelah dokter Jonathan Reiner meminta jawaban terbuka dari Gedung Putih. (Ilustrasi: AI)

WASHINGTON — Kesehatan Trump kembali dipersoalkan setelah dokter mantan Wakil Presiden Dick Cheney, Dr. Jonathan Reiner, meminta jawaban terbuka soal kondisi fisik Presiden Donald Trump. Reiner menilai publik berhak tahu, terutama ketika sorotan mengarah ke memar di tangan, pembengkakan kaki, dan momen Trump tampak mengantuk di depan kamera.

Isu ini bukan sekadar soal penampilan. Di Amerika Serikat, kesehatan presiden langsung berkaitan dengan kepercayaan publik, kemampuan memimpin, dan transparansi Gedung Putih.

Kesehatan Trump dan tuntutan jawaban publik

Dalam esai tamu di The New York Times yang terbit Rabu, Reiner menulis bahwa para pemilih tidak boleh dibiarkan menebak-nebak kondisi orang nomor satu di Gedung Putih. “In a representative democracy, the people must have confidence in the health of their leader, and in the leader’s capacity to guide the nation. We have been kept in the dark too long,” kata Reiner.

Reiner, yang menjadi ahli jantung Cheney selama 27 tahun, mengajukan sejumlah pertanyaan medis yang menurutnya layak dijawab secara terbuka. Ia menyorot memar hitam-biru di punggung tangan Trump yang oleh administrasi Trump dijelaskan sebagai akibat sering berjabat tangan dan penggunaan aspirin.

Reiner menolak penjelasan itu. Ia menyebut trauma dari berjabat tangan tidak pernah terasa masuk akal dan tidak menjelaskan mengapa tangan kiri Trump kerap menunjukkan warna serupa. Ia juga mempertanyakan alasan Trump mengonsumsi aspirin dalam dosis yang jauh lebih tinggi dari dosis yang biasanya direkomendasikan dokter.

Dokter presiden, Dr. Sean Barbabella, dalam artikel Wall Street Journal pada Januari mengatakan Trump mengonsumsi aspirin 325 milligrams per hari untuk “cardiac prevention”.

Trump sendiri mengatakan kepada surat kabar itu, “They say aspirin is good for thinning out the blood, and I don’t want thick blood pouring through my heart. I want nice, thin blood pouring through my heart. Does that make sense?”

Pembengkakan kaki dan tanda tanya baru

Reiner juga menyorot pembengkakan pada kaki Trump. Menurutnya, chronic venous insufficiency biasanya berkembang perlahan dalam jangka panjang. Masalahnya, dalam pemeriksaan fisik menyeluruh beberapa bulan sebelumnya, Barbabella tidak mencatat adanya pembengkakan pada kaki presiden.

“If that’s true, his swelling would be by definition acute, not chronic. Acute leg swelling is a potentially much more consequential finding that can be caused by issues such as heart and kidney disease. What’s the reason for this discrepancy?” kata Reiner.

Barbabella menulis hasil pemeriksaan fisik Trump pada Mei bahwa presiden mengalami sedikit pembengkakan di kaki bagian bawah, dan kondisi itu menunjukkan perbaikan dari tahun sebelumnya. Itu menjadi pemeriksaan medis ketiga Trump dalam 13 bulan.

Di titik ini, yang dipersoalkan bukan cuma detail klinis. Ketika data medis berubah-ubah atau tidak dijelaskan dengan tegas, ruang spekulasi langsung terbuka. Dan dalam politik Amerika, ruang itu biasanya cepat berubah jadi tekanan.

Kantuk Trump di depan kamera ikut disorot

Reiner juga menyebut momen Trump yang tampak sulit tetap terjaga selama rapat kabinet dan agenda di Oval Office. Ia bahkan terlihat mengantuk pada acara yang lebih ramai, termasuk pertandingan UFC yang ia gelar di halaman Gedung Putih untuk ulang tahunnya dan laga di Madison Square Garden saat NBA Finals.

“Although the president is a renowned night owl, his sleepiness seems relatively new. There are several possible causes for the president’s symptoms, some of which could have serious complications if left untreated,” kata Reiner. Ia lalu bertanya apakah tim medis presiden sudah menemukan sumber masalah itu dan bagaimana penanganannya.

Gedung Putih membela Trump. Juru bicara Davis Ingle mengatakan kepada The Independent, “If it quacks like a duck, it may actually just be a Democrat hack doctor,” sambil menyebut Trump sebagai presiden yang “sharpest, most accessible, and energetic” dalam sejarah Amerika dan menuding para profesional medis yang berspekulasi dari jauh melanggar sumpah Hipokrates.

Barbabella pada Mei juga menyatakan Trump “remains in excellent health” dan “fully fit to carry out all duties of the Commander-in-Chief.” Tapi keraguan publik belum surut. Survei Washington Post/ABC News/Ipsos pada April menemukan 55 persen orang dewasa di AS menilai Trump tidak cukup sehat secara fisik untuk menjalankan tugas presiden secara efektif.

Reiner menutup argumennya dengan nada keras. Ia menilai publik Amerika berhak mendapat penjelasan yang jelas, bukan sekadar bantahan politik, saat pertanyaan soal kesehatan presiden makin sulit dihindari.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda