JAKARTA — dorm dekorasi di kampus-kampus Amerika Serikat kini bukan lagi urusan sprei dan lampu meja seadanya. Di banyak keluarga, kamar asrama sudah diperlakukan seperti proyek kecil yang rapi, nyaman, dan siap tampil di media sosial.
Yang membuatnya menarik, pasar di balik tren itu justru tumbuh besar. Laporan Axios menggambarkan bagaimana kamar dorm yang kecil bisa memicu belanja besar, dari jasa desain profesional sampai perlengkapan yang disusun agar tahan dipakai selama masa kuliah.
Dorm dekorasi berubah jadi bisnis yang serius
Axios menulis bahwa industri “designer dorm” bernilai ribuan dolar tumbuh seiring menjamurnya tur kamar asrama di TikTok dan video haul yang menampilkan isi belanja mahasiswa. Bagi sebagian orang tua, dekorasi kamar bukan sekadar estetika. Itu bagian dari cara membuat transisi ke kampus terasa lebih mudah.
Shelly Gates, pendiri Mary Margaret Designs, masih ingat kamar dorm-nya saat kuliah di Louisiana State University. Ia menyebutnya sebagai “essentially a prison cell.” Kini, situasinya jauh berubah. Tahun ini, Gates menangani sekitar 35 kamar dorm. Beberapa proyek sebelumnya bahkan mencapai $20,000, yang ia sebut sebagai investasi untuk empat tahun.
Perubahan itu penting karena kamar asrama tidak lagi dianggap ruang sementara yang serba darurat. Banyak keluarga ingin kamar anak mereka terasa personal sejak hari pertama. Ada yang mengejar kenyamanan. Ada yang mengejar tampilan. Banyak juga yang mengejar dua-duanya sekaligus.
Antara selatan dan timur laut, selera dekorasinya berbeda
Di wilayah SEC country, tempat Gates banyak bekerja, kamar dorm sering dihias dengan monogram dan benda-benda yang menonjolkan semangat sekolah. Proyeknya bisa mencakup kanopi meja dari payung yang dipotong dua, lampu gantung yang bisa dikendalikan dari jauh, sampai karya seni pesanan.
Gates bilang, “I want the art to be a memory of college,” lalu menambahkan, “I don’t want it to be something they outgrow.” Kutipan itu menunjukkan arah baru dari tren ini: dekorasi dipilih bukan cuma untuk satu semester, melainkan untuk meninggalkan jejak masa kuliah.
Di wilayah Northeast, logikanya beda lagi. Kelly Mahoney, co-founder Dorm Essentials Co. di Boston, mengatakan hampir 99% pelanggannya berasal dari luar negara bagian atau dari luar negeri. Timnya membantu keluarga menghindari kerepotan logistik pengiriman atau berburu barang di Target yang sudah “picked over”.
Mahoney juga menegaskan bahwa bentuk dorm di Northeast sangat berbeda dari yang sering terlihat di media sosial atau di kampus-kampus selatan. Di ruang yang sempit, penyimpanan vertikal dan kotak yang disembunyikan di bawah tempat tidur jadi barang paling berguna. Bukan aksesori mewah. Justru yang fungsional sering jadi penentu.
Soal gaya hidup, tapi juga soal waktu dan tenaga
Di titik ini, dorm dekorasi tak lagi bisa dilihat sebagai tren visual semata. Ada dampak langsung bagi keluarga. Mereka yang mampu membayar jasa desain profesional bisa memangkas stres pindahan, menghemat waktu, dan memperoleh kamar yang tertata sejak hari pertama.
Sementara itu, keluarga yang memilih jalur DIY tetap ikut terdorong untuk merancang ruang seefisien mungkin, walau dengan anggaran jauh lebih kecil.
Henley Bedwell, mahasiswa baru James Madison University, memperlihatkan sisi DIY dari tren ini di TikTok. Ia memakai aplikasi desain ruangan dan tur virtual kampus untuk memetakan ruang, lalu membuat shared registry agar ia dan teman sekamarnya bisa menyelaraskan bedding, storage, dan dekorasi.
Ia berkata, “I need to make this space as comfortable as I can to make me not scream at the fact that I won’t be with my family.”
Bedwell dan teman sekamarnya menghabiskan sekitar $2,500 total. Ia memilih barang yang berharap masih bisa dipakai lagi, termasuk twin bedding, headboard, dresser, dan vas yang unik. Angka itu jauh di bawah proyek premium Gates, tapi tetap menunjukkan bahwa kamar dorm kini masuk daftar belanja yang serius, bukan sekadar tambahan kecil.
Menariknya, tren ini juga merembet ke mahasiswa laki-laki. Mahoney menyebut mereka dengan nada bercanda, “We don’t call it a design with the boys. We call it a room layout.” Gates bahkan membuat karya khusus untuk anak laki-laki, termasuk lukisan vintage mantan quarterback Ole Miss, Archie Manning.
Ujungnya tetap sama. Baik lewat jasa profesional maupun rakitan sendiri, tujuan kamar dorm sekarang lebih dari sekadar tempat tidur dan meja belajar. Bagi banyak keluarga, kamar itu harus nyaman, rapi, dan cukup personal untuk dipakai selama sembilan bulan ke depan.
Bedwell merangkumnya dengan kalimat yang cukup menohok: “No matter how people think how absurd spending all this money on your dorm room is, your kid’s gonna be here for the next nine months,” kata dia. “Why would you not rather them be comfortable?”
Fenomena itu juga menjelaskan kenapa industri kecil di sekitar asrama terus hidup: dari jasa pindahan, penyusunan layout, sampai pembelian barang dekoratif yang dibuat tahan lama. Dorm room memang kecil. Pasarnya tidak.
Axios mencatat, di balik kamar yang sempit itu, ada keluarga yang rela membayar demi ketenangan pindahan dan rasa nyaman yang langsung terasa sejak hari pertama kuliah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.