Senin, 17 Agustus 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Geoffrey Hinton: AI Picu Pengangguran Massal di Masa Depan

Geoffrey Hinton, tokoh terkemuka dalam bidang kecerdasan buatan
Geoffrey Hinton, pionir pembelajaran mesin dan pakar teknologi yang vokal mengenai risiko AI. (Ilustrasi: AI)

WASHINGTON — Pakar komputer peraih Nobel, Geoffrey Hinton, memberikan peringatan keras terkait masa depan dunia kerja akibat kecerdasan buatan atau AI. Tokoh yang dikenal sebagai “Godfather of AI” ini sepakat dengan prediksi para miliarder teknologi bahwa sistem otonom akan menggantikan peran manusia secara besar-besaran dalam waktu kurang dari 20 tahun.

Dalam diskusi bersama Senator Bernie Sanders di Georgetown University pada November 2025, Hinton menyoroti arah pengembangan industri teknologi saat ini.

Menurutnya, investasi triliunan dolar ke dalam pusat data dan cip canggih bukan sekadar dorongan inovasi ilmiah, melainkan upaya pragmatis perusahaan untuk menjual sistem yang mampu bekerja lebih murah dibandingkan tenaga kerja manusia.

Hinton menegaskan bahwa pengangguran massal akibat otomatisasi kini menjadi risiko yang sangat nyata.

Risiko Ekonomi dan Keamanan Kerja

Data yang dihimpun dalam laporan Senator Sanders pada Oktober 2025 memberikan gambaran suram terkait ancaman tersebut. Hampir 100 juta pekerjaan di Amerika Serikat berpotensi terdampak oleh otomatisasi. Bidang layanan pelanggan, pekerjaan manual, hingga sektor kerah putih seperti akuntansi dan pengembangan perangkat lunak menjadi kelompok yang paling rentan terkena efisiensi sistem.

Dampak ekonomi ini diprediksi tidak merata. Senator Mark Warner memperingatkan bahwa disrupsi AI kemungkinan akan memukul generasi muda lebih keras.

Tingkat pengangguran di kalangan lulusan baru universitas bisa melonjak hingga 25 persen dalam dua hingga tiga tahun ke depan jika kebijakan pengawasan tidak segera diterapkan.

Warner menekankan pentingnya membangun rambu-rambu atau guardrails agar kesalahan dalam regulasi media sosial tidak terulang pada pengembangan AI.

Kondisi ini menambah ketidakpastian bagi pasar tenaga kerja global. Di sisi lain, OpenAI sebagai pengembang utama ChatGPT diperkirakan membutuhkan pendanaan lebih dari 207 miliar dolar untuk mendukung pertumbuhan bisnisnya hingga 2030, menurut estimasi HSBC.

Ketergantungan industri pada keuntungan jangka pendek justru mempercepat proses penggantian tenaga kerja manusia dengan sistem AI yang dianggap lebih efisien dari sisi biaya operasional.

Ketidakpastian Masa Depan

Meski mengakui bahwa AI akan menciptakan lapangan kerja baru, Hinton ragu jumlahnya akan sebanding dengan posisi yang hilang. Ia mengibaratkan prediksi masa depan ini seperti berkendara di tengah kabut tebal.

Jarak pandang mungkin jelas untuk satu atau dua tahun ke depan, namun sepuluh tahun mendatang adalah wilayah yang sulit dipetakan. Ia menyarankan agar semua prediksi, termasuk argumennya sendiri, disikapi dengan skeptisisme tinggi.

Kritik tajam Hinton terhadap industri AI mencerminkan pergeseran posisinya sejak meninggalkan Google pada 2023. Ia kini menjadi salah satu suara paling berpengaruh dalam mendesak transparansi dan etika di balik pengembangan teknologi yang ia rintis sendiri.

Senada dengan hal tersebut, para ahli mengingatkan bahwa kemampuan pekerja untuk beradaptasi dengan teknologi akan menjadi kunci untuk menavigasi gejolak ekonomi yang akan datang.

Kerja, baik sebagai petugas kebersihan maupun ahli bedah saraf, merupakan aspek integral dari eksistensi manusia. Penghilangan elemen produktivitas manusia dari kehidupan sehari-hari bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan ancaman terhadap identitas dan kontribusi sosial individu dalam komunitasnya.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 17 Agustus 2026: Klaim Pack & Coins Gratis