JAKARTA — Saham PT Bank Mandiri Tbk (IDX: BMRI) ditutup melemah pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026. Emiten perbankan plat merah ini turun Rp20 atau 0,47% ke level Rp4.200 per saham, tertekan isu pemblokiran rekening donasi.
Pelemahan ini dipicu kabar viral mengenai pemblokiran rekening donasi atas nama “Mas Botok Pati” yang diduga menggunakan layanan Bank Mandiri. Sentimen negatif tersebut lantas memicu aksi jual investor ritel, khususnya di sesi awal perdagangan.
Pergerakan Saham BMRI di Tengah Sentimen Negatif
Berdasarkan data penutupan pukul 16.14 WIB, harga penutupan BMRI berada di Rp4.200. Angka ini merupakan penurunan 0,47% dari harga penutupan sebelumnya di Rp4.220. Saat pembukaan, saham BMRI dibuka di Rp4.220, sempat menyentuh level terendah harian di Rp4.170, sebelum kembali menguat dan ditutup di Rp4.200.
| Keterangan | Angka |
|---|---|
| Harga Penutupan | Rp4.200 (Turun 0,47%) |
| Open | Rp4.220 |
| High | Rp4.220 |
| Low | Rp4.170 |
| Prev Close | Rp4.220 |
| Market Cap | Rp388,08 Triliun |
| P/E Ratio | 6,29 |
| Dividend Yield | 11,36% |
| 52-wk Range | Rp3.650 – Rp5.375 |
Kronologi Isu Pemblokiran Rekening Donasi Mas Botok Pati
Isu ini menjadi perbincangan hangat di media sosial sejak akhir pekan lalu. Seorang kreator konten asal Pati, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai “Mas Botok”, menggalang donasi untuk kegiatan sosial. Namun, rekening yang ia gunakan dilaporkan diblokir sepihak oleh Bank Mandiri dengan alasan memerlukan verifikasi. Situasi ini langsung memicu protes netizen.
Tagar seperti #SaveDonasiMasBotok dan #BoikotBankMandiri sempat menduduki daftar trending di platform X dan TikTok. Banyak nasabah Bank Mandiri yang mengungkapkan kekhawatiran dananya juga dapat diblokir tanpa kejelasan prosedur. Hingga berita ini diturunkan, pihak Bank Mandiri belum memberikan keterangan resmi terkait kasus tersebut.
Dampak dan Analisis Pergerakan BMRI
Sentimen negatif dari isu ini langsung terasa di pasar saham. Investor ritel terpantau melakukan panic selling pada sesi pertama perdagangan, mendorong harga BMRI sempat turun ke level Rp4.170. Namun, aksi beli yang dilakukan investor institusi menjelang penutupan pasar berhasil menahan pelemahan agar tidak lebih dalam.
Secara fundamental, Bank Mandiri masih menunjukkan performa yang cukup kuat. Pada kuartal II 2026, Bank Mandiri mencatat pendapatan sebesar Rp31,59 triliun, meskipun ada penurunan 5,4% secara tahunan. Laba per saham (EPS) berhasil melampaui ekspektasi sebesar 10,32%, dan dividen yang ditawarkan masih terbilang tinggi, yakni 11,36%.
Analis pasar menilai pelemahan BMRI hari ini lebih disebabkan oleh sentimen sesaat daripada perubahan fundamental. Level support utama saham ini diperkirakan berada di kisaran Rp4.170 hingga Rp4.150, sementara resistansi berada di Rp4.220 hingga Rp4.250. Seorang analis sekuritas menyampaikan bahwa klarifikasi dan penyelesaian cepat dari Bank Mandiri akan sangat penting. “Kalau Bank Mandiri cepat klarifikasi dan membuka blokir, sentimen bisa cepat pulih. Tapi kalau berlarut, bisa ada outflow nasabah,” katanya.
Publik mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk turun tangan. Mereka berharap OJK memastikan tidak ada pemblokiran rekening sepihak tanpa dasar hukum yang jelas. Sentimen negatif yang menyelimuti BMRI ini perlu terus diwaspadai, meskipun fundamental perusahaan masih tergolong kuat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.