Senin, 24 Agustus 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Spektrum – Desa Adat Sade, sebelum dan sesudah api

Desa Adat Sade sebelum dan sesudah api di Lombok Tengah
Desa Adat Sade di Lombok Tengah menjadi perhatian setelah api melalap rumah adat pada Sabtu (22 Agustus) malam. (Ilustrasi: AI)

MATARAM — Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, awalnya masih ramai seperti biasa pada Minggu, 9 Agustus 2026. Wisatawan keluar-masuk gang sempit di antara rumah adat, sementara pemandu wisata berbaju tradisional menjelaskan kehidupan masyarakat Sasak dengan nada ramah.

Dua pekan lebih sedikit kemudian, suasananya berubah total. Pada Sabtu (22 Agustus) malam, api melahap kampung adat yang berada di jalur menuju kawasan wisata Kuta Mandalika itu dan membuat warga kehilangan banyak barang berharga dalam waktu singkat.

Desa Adat Sade sebelum api datang

Dalam catatan ANTARA, Sade masih tampak sebagai wajah pariwisata dan kebudayaan Lombok saat dikunjungi pada 9 Agustus 2026. Para juru parkir sibuk mengatur kendaraan wisatawan. Di dalam kampung, rumah-rumah adat berdiri berderet, menjadi latar utama kehidupan harian warga Sasak.

Kampung ini diperkirakan telah berusia sekitar 600 tahun. Disebut ada sejak sekitar abad ke-14, Sade tetap mempertahankan bentuk rumah, tata ruang, dan sejumlah tradisi masyarakat Sasak. Itu yang membuatnya bukan sekadar tempat singgah wisata, melainkan ruang hidup yang terus dipelihara.

Di salah satu rumah adat, seorang perempuan menenun kain. Tradisi itu disebut nyesek oleh masyarakat Sasak. Kain-kain warna-warni dipajang di bagian belakang rumah, digantung berjajar dengan pola simetris yang mencuri perhatian wisatawan.

Bagi perempuan Sasak, nyesek bukan cuma soal menghasilkan kain. Kemampuan menenun secara tradisional juga menjadi bagian dari pengetahuan adat dan penanda kedewasaan seorang perempuan sebelum menikah. Nilai budaya itu hadir dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya dalam pertunjukan untuk tamu.

Harga kain bahkan disebut bisa lebih bersahabat ketika pembeli dan penjual berbicara memakai bahasa Sasak. Detail kecil, tapi penting. Di situ letak hubungan antara budaya, ekonomi, dan identitas lokal yang membuat Sade punya daya tarik tersendiri.

Malam ketika api bergerak cepat

Tak ada yang menyangka pemandangan itu berubah menjadi kabar duka 13 hari kemudian. Pada Sabtu malam, api menjalar cepat di antara rumah-rumah tradisional yang sebagian besar memakai bahan mudah terbakar. Atap alang-alang membuat kobaran mudah merambat dari satu bangunan ke bangunan lain.

Malam yang biasanya tenang mendadak panik. Salah seorang warga, Amaq Imi, mengatakan kebakaran terjadi tiba-tiba ketika sebagian warga sedang tertidur. Banyak barang tidak sempat diselamatkan. Kain tenun, uang, telepon seluler, dan berbagai benda milik warga ikut terbakar.

Di titik ini, yang terbakar bukan hanya bangunan. Ingatan kolektif ikut terancam. Soalnya, di Sade, rumah adat dan benda sehari-hari bukan dua hal yang terpisah. Keduanya saling mengikat cara hidup warga dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Apa artinya bagi warga dan pariwisata Lombok

Kebakaran di Desa Adat Sade terasa jauh melampaui kerusakan fisik. Bagi warga, kehilangan kain tenun, uang, dan telepon seluler berarti terganggunya aktivitas harian yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan dasar. Bagi kampung adat, api juga menghantam lapisan lain: fungsi Sade sebagai ruang belajar budaya bagi wisatawan.

Selama puluhan tahun, kampung ini menjadi tempat wisatawan mengenal lebih dekat masyarakat Sasak, rumah tradisional, kain tenun, bahasa, tradisi, dan kehidupan adat yang masih dipertahankan. Saat api melahap rumah-rumah itu, yang terancam bukan cuma bangunan, melainkan juga pengalaman budaya yang selama ini menjadi alasan orang datang ke sana.

Karena itu, kabar dari Sade punya arti khusus bagi pariwisata Lombok Tengah. Kampung adat seperti ini bukan atraksi yang mudah diganti. Ia dibangun dari kesinambungan tradisi, kehadiran warga, dan benda-benda yang menyimpan cerita. Sekali rusak, pemulihannya tak pernah sesederhana membangun ulang dinding atau atap.

ANTARA menggambarkan kontras yang tajam: pada 9 Agustus, Sade masih hidup dengan irama normal, sementara 13 hari sesudahnya kampung itu dilanda api. Kontras itulah yang membuat peristiwa ini terasa berat. Dalam hitungan hari, tempat yang semula menyambut wisatawan berubah menjadi lokasi kehilangan.

Dan yang paling terasa justru ada pada benda-benda kecil. Kain tenun, uang, telepon seluler. Tiga hal itu saja sudah cukup menunjukkan betapa dekatnya dampak kebakaran dengan kehidupan warga, bukan hanya dengan citra kampung adat di mata pengunjung.

Di Sade, warisan budaya tidak berdiri di museum. Ia hidup di rumah, di kain, di bahasa, dan di kebiasaan sehari-hari. Begitu api datang, semua itu ikut berada di garis depan. Api mungkin bergerak cepat pada Sabtu malam, tapi bekasnya akan tinggal jauh lebih lama di kampung yang sudah disebut-sebut ada sejak sekitar abad ke-14 itu.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda