MATARAM — Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, awalnya masih ramai seperti biasa pada Minggu, 9 Agustus 2026. Wisatawan keluar-masuk gang sempit di antara rumah adat, sementara pemandu wisata berbaju tradisional menjelaskan kehidupan masyarakat Sasak dengan nada ramah.
Dua pekan lebih sedikit kemudian, suasananya berubah total. Pada Sabtu (22 Agustus) malam, api melahap kampung adat yang berada di jalur menuju kawasan wisata Kuta Mandalika itu dan membuat warga kehilangan banyak barang berharga dalam waktu singkat.
Desa Adat Sade sebelum api datang
Dalam catatan ANTARA, Sade masih tampak sebagai wajah pariwisata dan kebudayaan Lombok saat dikunjungi pada 9 Agustus 2026. Para juru parkir sibuk mengatur kendaraan wisatawan. Di dalam kampung, rumah-rumah adat berdiri berderet, menjadi latar utama kehidupan harian warga Sasak.
Kampung ini diperkirakan telah berusia sekitar 600 tahun. Disebut ada sejak sekitar abad ke-14, Sade tetap mempertahankan bentuk rumah, tata ruang, dan sejumlah tradisi masyarakat Sasak. Itu yang membuatnya bukan sekadar tempat singgah wisata, melainkan ruang hidup yang terus dipelihara.
Di salah satu rumah adat, seorang perempuan menenun kain. Tradisi itu disebut nyesek oleh masyarakat Sasak. Kain-kain warna-warni dipajang di bagian belakang rumah, digantung berjajar dengan pola simetris yang mencuri perhatian wisatawan.
Bagi perempuan Sasak, nyesek bukan cuma soal menghasilkan kain. Kemampuan menenun secara tradisional juga menjadi bagian dari pengetahuan adat dan penanda kedewasaan seorang perempuan sebelum menikah. Nilai budaya itu hadir dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya dalam pertunjukan untuk tamu.
Harga kain bahkan disebut bisa lebih bersahabat ketika pembeli dan penjual berbicara memakai bahasa Sasak. Detail kecil, tapi penting. Di situ letak hubungan antara budaya, ekonomi, dan identitas lokal yang membuat Sade punya daya tarik tersendiri.
Malam ketika api bergerak cepat
Tak ada yang menyangka pemandangan itu berubah menjadi kabar duka 13 hari kemudian. Pada Sabtu malam, api menjalar cepat di antara rumah-rumah tradisional yang sebagian besar memakai bahan mudah terbakar. Atap alang-alang membuat kobaran mudah merambat dari satu bangunan ke bangunan lain.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.