Malam yang biasanya tenang mendadak panik. Salah seorang warga, Amaq Imi, mengatakan kebakaran terjadi tiba-tiba ketika sebagian warga sedang tertidur. Banyak barang tidak sempat diselamatkan. Kain tenun, uang, telepon seluler, dan berbagai benda milik warga ikut terbakar.
Di titik ini, yang terbakar bukan hanya bangunan. Ingatan kolektif ikut terancam. Soalnya, di Sade, rumah adat dan benda sehari-hari bukan dua hal yang terpisah. Keduanya saling mengikat cara hidup warga dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Apa artinya bagi warga dan pariwisata Lombok
Kebakaran di Desa Adat Sade terasa jauh melampaui kerusakan fisik. Bagi warga, kehilangan kain tenun, uang, dan telepon seluler berarti terganggunya aktivitas harian yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan dasar. Bagi kampung adat, api juga menghantam lapisan lain: fungsi Sade sebagai ruang belajar budaya bagi wisatawan.
Selama puluhan tahun, kampung ini menjadi tempat wisatawan mengenal lebih dekat masyarakat Sasak, rumah tradisional, kain tenun, bahasa, tradisi, dan kehidupan adat yang masih dipertahankan. Saat api melahap rumah-rumah itu, yang terancam bukan cuma bangunan, melainkan juga pengalaman budaya yang selama ini menjadi alasan orang datang ke sana.
Karena itu, kabar dari Sade punya arti khusus bagi pariwisata Lombok Tengah. Kampung adat seperti ini bukan atraksi yang mudah diganti. Ia dibangun dari kesinambungan tradisi, kehadiran warga, dan benda-benda yang menyimpan cerita. Sekali rusak, pemulihannya tak pernah sesederhana membangun ulang dinding atau atap.
ANTARA menggambarkan kontras yang tajam: pada 9 Agustus, Sade masih hidup dengan irama normal, sementara 13 hari sesudahnya kampung itu dilanda api. Kontras itulah yang membuat peristiwa ini terasa berat. Dalam hitungan hari, tempat yang semula menyambut wisatawan berubah menjadi lokasi kehilangan.
Dan yang paling terasa justru ada pada benda-benda kecil. Kain tenun, uang, telepon seluler. Tiga hal itu saja sudah cukup menunjukkan betapa dekatnya dampak kebakaran dengan kehidupan warga, bukan hanya dengan citra kampung adat di mata pengunjung.
Di Sade, warisan budaya tidak berdiri di museum. Ia hidup di rumah, di kain, di bahasa, dan di kebiasaan sehari-hari. Begitu api datang, semua itu ikut berada di garis depan. Api mungkin bergerak cepat pada Sabtu malam, tapi bekasnya akan tinggal jauh lebih lama di kampung yang sudah disebut-sebut ada sejak sekitar abad ke-14 itu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.