NEWCASTLE — Stadion St James’ Park menjadi saksi bisu momen yang menyentuh hati saat Newcastle United dan Liverpool bersatu memberikan penghormatan terakhir bagi legenda sepak bola, Kevin Keegan. Sang ikon yang wafat di usia 75 tahun tersebut meninggalkan jejak mendalam bagi kedua klub yang pernah ia bela dan latih.
Suasana stadion berubah menjadi penuh duka sekaligus penghormatan yang megah sebelum pertandingan Premier League dimulai. Suporter dari kedua kubu, melalui kelompok Wor Flags dan Spion Kop 1906, berkolaborasi menciptakan koreografi megah di seluruh tribun stadion. Ini merupakan momen bersejarah karena suporter tim tamu turut dilibatkan dalam tampilan visual berskala besar di St James’ Park.
Penghormatan Lintas Generasi
Di tengah lapangan, mosaik raksasa dibentuk menggunakan deretan jersey yang sebelumnya ditinggalkan penggemar di luar stadion.
Para pemain dari kedua tim tampil mengenakan jersey khusus untuk pemanasan, sementara kapten tim meletakkan karangan bunga di depan Gallowgate End sebelum mengheningkan cipta.
Suasana semakin khidmat ketika layar raksasa menayangkan cuplikan perjalanan karier Keegan, baik sebagai pemain maupun pelatih, yang memicu tepuk tangan spontan dari puluhan ribu penonton.
Sejumlah mantan rekan setim Keegan hadir langsung di pinggir lapangan. Legenda Newcastle era 90-an seperti Faustino Asprilla terlihat berdiri berdampingan dengan tokoh besar Liverpool, Ian Rush dan Kenny Dalglish. Kehadiran mereka menegaskan betapa besar pengaruh Keegan dalam sejarah panjang sepak bola Inggris.
Warisan Sang Legenda
Pihak keluarga Kevin Keegan melalui surat resmi yang dipublikasikan oleh Newcastle menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas dukungan dari komunitas sepak bola.
Mereka menyatakan bahwa curahan kasih sayang dari para pendukung di St James’ Park maupun Anfield memberikan kekuatan berarti di masa sulit ini. Semangat yang ditunjukkan suporter diyakini mencerminkan kecintaan sejati pada permainan yang selalu digaungkan Keegan semasa hidupnya.
Keegan memiliki rekam jejak karier yang luar biasa di pentas Eropa. Memulai langkah profesionalnya bersama Scunthorpe United pada 1968, ia kemudian meraih masa keemasan di Liverpool.
Kariernya berlanjut ke Bundesliga bersama Hamburg, di mana ia memenangkan gelar liga dan predikat European Footballer of the Year pada 1978 dan 1979.
Sepanjang 592 penampilan, ia mencatatkan 204 gol sebelum akhirnya beralih profesi menjadi manajer untuk klub-klub besar seperti Newcastle, Fulham, Manchester City, dan tim nasional Inggris.
Kepergian sosok dengan dedikasi tinggi ini menyisakan kenangan abadi bagi rivalitas sehat Newcastle dan Liverpool, yang kini dipersatukan oleh rasa kehilangan yang mendalam terhadap salah satu bakat terbaik sepanjang masa.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.