Layar televisi Anda mungkin penuh dengan wajah John B dan kawan-kawan yang sedang berburu harta karun, tapi di dunia kritik film, Outer Banks seolah tidak pernah ada. Serial hit garapan Netflix ini baru saja merilis musim kelima yang menjadi penutup perjalanan panjang para Pogues, dan meski secara statistik mereka merajai tangga tontonan, para kritikus profesional justru bergeming.
Hingga detik ini, situs agregator Rotten Tomatoes bahkan belum mampu menyematkan skor resmi pada musim pamungkas ini. Alasannya sederhana tapi menohok: jumlah ulasan profesional yang masuk terlalu sedikit untuk mencapai ambang batas verifikasi. Hanya ada empat ulasan yang tercatat di sana.
Padahal, bandingkan dengan judul-judul lain yang jauh lebih sunyi dari perbincangan publik, namun justru dibanjiri puluhan ulasan kritik hingga memiliki skor yang mapan.
Jurang Antara Penonton dan Kritikus
Fenomena ini bukan sekadar ketidaksengajaan. Sejak musim perdana tayang, Outer Banks memang sudah menjadi “anak tiri” bagi kalangan kritikus film. Sepanjang lima musim berjalan, serial ini hampir tidak pernah mendapatkan lebih dari sepuluh ulasan profesional.
Padahal, popularitasnya di mata penonton tidak pernah meredup. Penggemar setia terus memadati server Netflix, bahkan menjadikan serial ini sebagai salah satu tontonan wajib selama bertahun-tahun.
Sangat kontras dengan sikap dingin para kritikus, komunitas penggemar di situs IMDb justru menunjukkan apresiasi setinggi langit. Episode final dari petualangan panjang ini berhasil menyentuh rating 9/10. Bagi penonton, ini adalah perpisahan yang manis dan memuaskan.
Bagi industri, ini adalah bukti bahwa selera publik dan penilaian kritikus kini beroperasi di dua semesta yang berbeda dan nyaris tidak pernah bersinggungan.
Kondisi ini sebenarnya membuka tabir tentang ke mana arah jarum kompas jurnalisme hiburan saat ini. Sumber daya media semakin menyusut dan pilihan redaksi menjadi jauh lebih selektif. Fokus besar kini lebih sering dialokasikan untuk film layar lebar atau rilis video game besar yang punya nilai prestise lebih tinggi di mata industri.
Coba tengok bagaimana film horor atau drama dengan label “festival” bisa mendapatkan ratusan ulasan hanya dalam hitungan hari. Akses eksklusif, pemutaran pers yang megah, hingga kampanye pemasaran yang masif membuat mereka selalu jadi magnet bagi para pengulas.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.