JAKARTA — Pagelaran Sabang Merauke 2026 membawa panggung besar itu ke arah yang lebih intim dan emosional lewat Hikayat Srikandi Nusantara. Pada 25 Agustus 2026, pertunjukan ini menempatkan Raisa sebagai Srikandi yang memanggil perempuan-perempuan dari berbagai kisah Nusantara untuk melawan Yuyu Kangkang, simbol kekerasan terhadap perempuan.
Kalimat pembuka di atas panggung langsung menancap: “Saudara-saudaraku, saatnya telah tiba. Para Srikandi-Srikandi Nusantara, aku memanggilmu.” Dari sana, narasi bergerak cepat ke Sriwijaya, Sumatera Barat, Jawa Barat, lalu Bali. Setiap pertemuan bukan sekadar adegan, melainkan cara baru membaca kembali legenda lama dengan napas yang lebih dekat ke isu hari ini.
Pagelaran Sabang Merauke 2026 dan Srikandi yang pulang ke panggung
Raisa tampil sebagai Srikandi dengan amarah, keberanian, dan rasa tanggung jawab yang kuat. Dalam penceritaan ini, Srikandi tidak hanya hadir sebagai tokoh perang Bharatayudha, tapi juga sosok yang memanggil pasukan lintas cerita untuk menghadapi bahaya laten yang mengancam perempuan.
“Maju bersama, menuju kemenangan dan kemuliaan menghadapi bahaya laten yang mengancam negeri ini!” begitu seruan yang muncul dalam penggalan pertunjukan.
Di epos Mahabharata, Srikandi memang punya peran penting saat perang Bharatayudha. Ia dipanggil turun karena keahlian memanahnya, karena sumpah Bisma yang tak akan menyerang perempuan, dan karena janji Siwa lewat reinkarnasi Dewi Amba.
Di panggung ini, latar itu tidak diperlakukan sebagai sejarah yang beku. Justru sebaliknya. Ia dipakai sebagai bahan bakar dramatik untuk bicara soal keberanian perempuan hari ini.
Bedanya terasa jelas. Srikandi di panggung bukan sekadar tokoh pendamping Arjuna, melainkan pusat gerak cerita. Ia yang berjalan, memanggil, dan mengajak. Ia yang menolak diam. Di titik ini, Pagelaran Sabang Merauke 2026 berhasil membuat legenda lama terasa relevan tanpa kehilangan akar cerita asalnya.
Dari Sriwijaya ke Bali, para perempuan legenda diberi napas baru
Perjalanan Srikandi di pertunjukan itu dimulai dari Sriwijaya. Di sana, ia bertemu representasi perempuan kerajaan yang dimainkan Alicia Hartono. Bahan pertunjukan juga mengaitkannya dengan Sri Wijaya Mahadewi, penguasa perempuan abad ke-10 yang disebut memimpin wilayah regional Sriwijaya.
Sriwijaya bukan cuma latar, tapi juga simbol diplomasi, pengetahuan, dan peran perempuan yang kuat dalam sejarah.
Masih di segmen itu, “Gending Sriwijaya” tidak berhenti pada tari sambut. Unsur barosangi, liong, dan pendekar wushu ikut dihadirkan. Kombinasi ini memberi rasa meriah yang padat, sekaligus menegaskan bahwa pertunjukan ini memang ingin merangkum banyak lapisan budaya dalam satu malam.
Lalu cerita bergeser ke Sumatera Barat. Srikandi bertemu Mande Rubayah, ibu Malin Kundang. Dalam versi panggung, Malin Kundang kembali menjadi manusia dan meminta maaf kepada ibunya. Mande Rubayah, yang di kisah asal hidup dalam luka sebagai ibu tunggal yang ditinggalkan anaknya, lalu diajak Srikandi bergabung dalam pasukan. Adegan ini mengubah tragedi jadi ruang penyembuhan. Singkat. Tapi kuat.
Setelah itu, giliran Dayang Sumbi yang diperankan Christine Tambunan muncul. Di kisah asli, Dayang Sumbi menyimpan rangkaian duka: terpisah dari latar kerajaan, hidup dengan Tumang, kehilangan suami, jauh dari anak, sampai nyaris terjerat pernikahan sedarah.
Namun panggung kali ini memilih sisi yang lebih tenang. Dayang Sumbi tetap teguh. Ia menerima ajakan Srikandi untuk ikut bergerak melawan Yuyu Kangkang.
Calonarang, Barong, dan pesan tentang hidup yang tak hitam-putih
Babak Bali membawa Srikandi bertemu Calonarang. Sosok ini menjadi salah satu titik paling menarik dalam penceritaan Pagelaran Sabang Merauke 2026. Dalam bahan sumber, Calonarang dibaca bukan semata sebagai tokoh jahat, melainkan perempuan yang marah karena diskriminasi terhadap anaknya.
Ia janda sakti dari Desa Girah, ibu dari Ratna Manggali, dan kemarahan itu meledak setelah anaknya dijauhi masyarakat.
Di panggung, tafsirnya digeser ke arah keseimbangan antara sekala dan niskala. Barong, celuluk, dan rangda tidak dihadirkan sebagai kubu baik dan buruk yang saling bertabrakan. Mereka justru menjadi pengingat bahwa hidup punya dua sisi yang jalan berdampingan. Tafsir seperti ini membuat pertunjukan tidak jatuh pada hitam-putih yang sederhana. Ada empati. Ada lapisan.
Di bagian inilah pertunjukan terasa punya dampak paling nyata. Bukan cuma karena kostum, koreografi, atau skala produksi, melainkan karena cara ia membuka ruang baru untuk membaca ulang tokoh perempuan yang selama ini sering dipinggirkan oleh narasi populer.
Penonton tidak hanya diajak menikmati visual. Mereka juga diajak melihat bagaimana amarah, kehilangan, kasih sayang, dan perlawanan bisa hidup bersamaan dalam satu tubuh cerita.
Di balik panggung, kerja kreatifnya juga tidak main-main
Lapisan lain datang dari sisi busana. Liputan6 mencatat, Priyo Oktaviano bersama tim desainer Ikatan Perancang Mode Indonesia menyusun motif tenun Nusantara yang otentik untuk pertunjukan ini.
Rama Dauhan juga mengerjakan kostum serdadu keraton dengan riset ke Imogiri dan bahkan meminta izin langsung ke Sultan. Chossy Latu, menurut laporan yang sama, menghadapi tantangan besar saat Christie Tambunan harus berganti busana dalam waktu 2 menit 10 detik.
Detail-detail itu penting. Soalnya, pertunjukan seperti Pagelaran Sabang Merauke 2026 berdiri bukan cuma di atas ide cerita, tapi juga disiplin produksi yang rumit. Kostum harus tepat. Perpindahan adegan harus mulus. Riset budaya harus cermat. Tanpa itu, kisah sebesar apa pun bisa terasa kosong di panggung.
Di titik akhir, pertunjukan ini tidak menutup diri pada nostalgia. Ia justru menatap ke depan dengan membawa tokoh-tokoh perempuan Nusantara sebagai lambang keberanian, penolakan terhadap kekerasan, dan ruang bagi luka untuk disembuhkan. Panggungnya selesai, tapi gema Srikandi masih panjang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.