BOGOR — Rencana Pemerintah Kabupaten Bogor membangun kereta gantung di Jalan Raya Puncak memicu beragam tanggapan warga. Sebagian skeptis, sebagian optimis—masing-masing dengan alasan berbeda mengenai efektivitas dan dampak ekonomi proyek ini.
Muhamad Rifaldi, warga Kecamatan Megamendung yang bekerja di Depok, hampir setiap hari mengalami kemacetan di ruas itu. Ia ragu kereta gantung akan mengatasi masalah. “Rencana pembuatan kereta gantung untuk mengatasi kemacetan di kawasan Puncak itu tidak begitu efektif.
Karena orang-orang yang berlibur ke kawasan Puncak kan tidak hanya berwisata ke taman rekreasi, melainkan ada juga yang sekadar berlibur, sewa vila,” ujarnya, Selasa (25/8/2026).
Alasan Rifaldi sederhana: lokasi vila dan penginapan tersebar di permukiman hingga perbukitan. Kereta gantung tidak bisa mengakses langsung wisatawan ke setiap tujuan mereka. “Orang-orang yang sebatas liburan dengan menghabiskan waktu di vila itu pasti akan menggunakan kendaraan pribadi. Kenapa?
Karena tidak memungkinkan kereta gantung mengakses langsung para wisatawan ke tempat tujuannya, apalagi buat orang-orang yang berlibur ke vila.”
Meski demikian, Rifaldi tetap apresiasi komitmen pemerintah menangani kemacetan Puncak. Ia justru menyarankan solusi alternatif: pelebaran jalan atau tol yang terhubung langsung ke kawasan Puncak.
“Mungkin saran dari saya, daripada membangun kereta gantung, lebih baik melakukan pelebaran jalan atau membuat jalan tol yang terhubung langsung ke kawasan Puncak,” katanya. Namun ia tegas: “Tetapi bagaimanapun saya sangat mendukung adanya rencana penyelesaian permasalahan macet di Puncak.
Sebab sekarang itu bukan hanya hari libur, hari biasa juga macet di Puncak.”
Optimisme Dari Sisi Ekonomi Wisata
Pandangan berbeda datang dari Danil (25), yang setuju dengan wacana kereta gantung. Menurutnya, proyek ini akan membawa sensasi baru bagi wisatawan dan mempercepat pemulihan ekonomi lokal. “Saya setuju. Pertama, kita bisa merasakan sensasi baru untuk menikmati keindahan daerah Puncak dengan adanya kereta gantung. Kedua, bisa juga menarik lebih banyak wisatawan,” katanya.
Danil percaya atraksi kereta gantung akan menjadi daya tarik tersendiri. “Dengan adanya kereta gantung di wilayah Puncak, orang-orang bakal datang karena ingin merasakan sensasi baru.” Dampak ekonomi pun diharapkan positif: “Menurut saya, imbas ke perekonomian Puncak juga bakalan baik dengan banyaknya wisatawan yang datang ke Puncak.”
Namun Danil juga punya syarat. Penataan transportasi harus diimbangi tata kota yang rapi. “Alangkah baiknya untuk pedagang atau warung disediakan tempat berjualan yang rapi oleh pemerintah daerah. Di mana ditempatkannya juga di lokasi strategis agar tempat belanja atau warung terfokus di satu tempat, sehingga tidak mengganggu lalu lintas,” ujarnya.
Penilaian Anggota DPR: Perlu Kajian Serius
Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda memberikan penilaian bernuansa berbeda. Ia menyetujui potensi kereta gantung untuk pariwisata, tetapi mengingatkan: jika fungsinya transportasi publik, diperlukan perencanaan matang dan integrasi dengan moda transportasi lain.
“Kereta gantung itu kira-kira konteksnya memang untuk mendukung destinasi wisata. Kalau semangatnya untuk transportasi, memang banyak hal yang harus disiapkan,” kata Huda kepada wartawan, Selasa (25/8/2026). Ia menekankan kereta gantung tidak akan efektif jika berdiri sendiri.
“Kalau konteksnya untuk mendukung pengembangan pariwisata, saya kira itu kebutuhan, bahkan. Namun, jika konteksnya untuk transportasi publik, itu butuh rekayasa yang cukup serius. Dan semua pihak tidak boleh setengah-setengah,” tambahnya.
Posisi Huda mencerminkan paradoks proyek ini: kereta gantung bisa efektif sebagai atraksi wisata, tapi tidak jika dimaksudkan sepenuhnya sebagai solusi kemacetan. Pemkab Bogor perlu menentukan prioritas utama dan merancang ekosistem transportasi terintegrasi jika ingin proyek ini benar-benar mengatasi persoalan mobilitas kawasan Puncak.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.