Amerika Serikat kembali menjatuhkan sanksi baru ke Iran, dan langkah itu langsung memantik respons keras dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Dalam pernyataan terbarunya, Sabtu, 29 Agustus 2026, ia menekankan bahwa Iran harus lebih bertumpu pada produksi dalam negeri untuk menahan tekanan ekonomi yang makin berat.
Rentetan sanksi ini hadir saat konflik dengan Teheran belum juga mereda. Upaya diplomasi juga sudah terhenti. Situasinya membuat pemerintah Iran menghadapi tekanan berlapis: di satu sisi sanksi eksternal, di sisi lain tuntutan untuk menjaga stabilitas harga dan kebutuhan harian warga.
Seruan kurangi dominasi dolar
Dalam pesan untuk memperingati Pekan Pemerintah Iran, Mojtaba juga mendorong pengurangan secara bertahap atas peran dominan dolar Amerika dalam ekonomi negaranya. Pesan itu disampaikan di tengah pembahasan yang makin sensitif soal daya tahan ekonomi Iran. Bagi Teheran, isu mata uang bukan sekadar teknis. Ini soal ruang gerak.
Mojtaba menilai ketergantungan yang lebih besar pada produksi domestik bisa menjadi kunci untuk mengatasi persoalan ekonomi. Ia menaruh penekanan pada kemampuan Iran memutar roda pasar dari dalam, bukan menggantungkan harapan pada arus luar yang mudah tersendat oleh sanksi. Nada pesannya tegas. Bahkan, cenderung defensif.
Inflasi dan harga jadi tekanan utama
Dalam pernyataannya, Mojtaba mendesak pemerintah memberi perhatian serius pada tantangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang saling terkait. Ia menyebut inflasi, pengangguran, pengendalian harga, serta pengaturan pasar barang dan jasa sebagai persoalan yang harus ditangani serempak. Daftarnya panjang. Dan semua terasa mendesak.
Pesan itu juga menunjukkan bahwa tekanan sanksi bukan hanya urusan diplomasi atau hubungan luar negeri. Dampaknya merembet ke dapur rumah tangga, lapangan kerja, dan harga kebutuhan sehari-hari. Ketika sanksi baru terus mengunci ruang ekonomi Iran, pemerintah dipaksa mencari jalan yang lebih sempit, lebih keras, dan jauh lebih mahal untuk ditempuh.
Tekanan AS belum menunjukkan tanda reda
AS menjatuhkan sanksi baru dengan tujuan menekan dan meruntuhkan rezim Teheran, menurut laporan yang dikutip dari Anadolu Agency dan Press TV. Namun langkah itu belum memperlihatkan tanda-tanda membuat Iran melunak. Sebaliknya, respons dari lingkaran kepemimpinan tertinggi justru mengarah pada ketahanan internal dan penguatan ekonomi domestik.
Di saat jalur diplomasi mandek, sanksi baru hanya menambah panjang daftar tekanan yang harus dihadapi Tehran. Mojtaba memilih mengangkat tema kemandirian ekonomi, pengurangan dominasi dolar, dan kontrol harga sebagai jawaban. Kalimatnya sederhana, tapi bunyinya keras: “Kunci utama untuk mengatasi semua persoalan ini terletak pada peningkatan ketergantungan terhadap produksi dalam negeri.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.