Menjelang perhelatan FIFA ASEAN Cup 2026, kursi kepelatihan Timnas Indonesia yang diduduki John Herdman kembali memanas. Ekspektasi tinggi publik kerap kali berbenturan dengan realitas di lapangan, memicu spekulasi mengenai masa depan sang pelatih jika tim gagal memenuhi target juara di turnamen bergengsi Asia Tenggara tersebut.
Kurniawan Dwi Yulianto, legenda hidup Timnas Indonesia, memberikan pandangan dingin menyikapi wacana pemecatan yang mulai bergulir. Ia menegaskan bahwa setiap pelatih profesional pasti memiliki kewajiban untuk mempresentasikan laporan kinerja pasca-turnamen kepada PSSI. Proses evaluasi ini dianggapnya sebagai prosedur standar yang tak bisa diabaikan, terlepas dari hasil akhir yang diraih tim.
“Jadi masing-masing pelatih itu kan setiap event itu harus ada report. Dan mau berhasil atau enggak itu harus menyampaikan report-nya dan dari federasi yang akan mengevaluasi,” ujar Kurniawan dalam podcast Ruang Bola, Minggu 30 Agustus 2026.
Pentingnya Evaluasi Sesuai Regulasi
Pria yang akrab disapa Si Kurus ini enggan terjebak dalam arus opini publik yang mendesak perubahan posisi pelatih secara instan. Menurutnya, keputusan krusial seperti pemutusan hubungan kerja harus berpijak pada regulasi dan kontrak yang mengikat kedua belah pihak. Emosi massa, kata Kurniawan, tidak boleh menjadi penentu kebijakan strategis bagi masa depan sepak bola nasional.
“Jadi kita serahkan semua ke federasi, karena semua kan ada aturannya. Enggak bisa juga kita memaksa. Kalau ngikutin emosi kan pasti iya, cuma kan kembali lagi bahwa bangsa kita kan bangsa yang besar,” tuturnya. Ia menegaskan, jika federasi akhirnya memilih untuk berpisah dengan Herdman, proses tersebut wajib dilakukan secara profesional dan sesuai koridor hukum kontrak yang berlaku.
Optimisme Skuad Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026
Di balik perdebatan masa depan pelatih, Kurniawan memilih untuk menaruh harapan besar pada komposisi pemain yang dimiliki Indonesia saat ini. Masuknya sejumlah pemain diaspora yang berkiprah di kompetisi top Eropa, seperti liga Italia, Jerman, hingga Prancis, menjadi modal berharga bagi skuad Garuda.
Kualitas individu para pemain tersebut dianggap menjadi pembeda nyata dibandingkan era sebelumnya. Optimisme ini menjadi angin segar setelah kegagalan pahit di Piala AFF 2026, di mana Timnas Indonesia hanya mampu mengumpulkan tujuh poin dari Grup A dan gagal melangkah ke babak semifinal.
Dengan materi pemain yang jauh lebih kompetitif di level internasional, Kurniawan berharap target juara bukan sekadar impian, melainkan capaian yang realistis untuk diraih di FIFA ASEAN Cup 2026.
Dinamika ini tentu menjadi perhatian serius bagi pendukung Timnas Indonesia. Keberhasilan atau kegagalan Herdman dalam memadukan talenta diaspora dengan pemain lokal di ajang ini bakal menentukan arah kebijakan PSSI dalam jangka panjang, terutama dalam menyambut tantangan lebih besar di Piala Asia dan proyeksi Piala Dunia 2030.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.