Senin, 31 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Festival Musik Olivia Rodrigo Kumpulkan Dana untuk Perempuan

Festival musik Olivia Rodrigo galang dana perempuan di Irvine
Festival musik Olivia Rodrigo di Irvine menghimpun dana besar untuk nonprofit yang fokus pada perempuan. (Ilustrasi: AI)

IRVINE — Festival musik Olivia Rodrigo di Great Park, Irvine, California, pada Sabtu, 29 Agustus 2026, langsung meninggalkan angka besar: US$20 juta untuk isu kesejahteraan perempuan. Dana itu terkumpul lewat gelaran Daisy Chain Fields yang memadukan konser, aktivisme, dan jejaring amal.

Olivia Rodrigo mengumumkan sebelum pertunjukan bahwa acara itu sudah cukup menghasilkan untuk memberi US$10 juta kepada 10 mitra nonprofit. Di barisan itu ada Planned Parenthood, National Women’s Law Center, dan Black Mamas Matter Alliance.

Tambahan US$10 juta datang dari Melinda French Gates melalui Pivotal Ventures, setelah ia muncul mengejutkan di awal set Rodrigo dan memuji Rodrigo karena “showing a new generation how much their voices matter.”

Festival musik Olivia Rodrigo dan pesan soal hak perempuan

Daisy Chain Fields tidak hanya menampilkan musik. Panggungnya diisi susunan artis perempuan dan queer, mulai dari Chappell Roan, Doechii, hingga Bikini Kill yang dikenal sebagai pionir riot grrrl. Di festival itu, isu yang diangkat juga jelas: kesehatan perempuan, perlindungan di tempat kerja, dan hak hukum.

Rodrigo, 23, menyebut ia terinspirasi semangat do-it-yourself dari pengaruh musik alternatif era 1990-an. Ia juga mengatakan para artis dan aktivis di acara itu memberinya harapan meski ada “regression of women’s rights” saat ini. Soal nama Daisy Chain, ia menjelaskan bahwa istilah itu mengingatkannya bagaimana bagian-bagian kecil dapat menyatu menjadi sesuatu yang kuat dan tak mudah dipatahkan.

Ia bukan sekadar tampil. Rodrigo juga mendorong generasi muda untuk terhubung dengan organisasi nirlaba yang selama ini kerap kesulitan menjangkau donor muda.

Di AP, dijelaskan bahwa banyak nonprofit belum berhasil membangun relasi dengan Gen Z, yang cenderung memilih cara berdonasi yang lebih informal. Festival ini mencoba menjembatani jarak itu lewat musik yang mereka kenal, artis yang mereka ikuti, dan ruang interaksi yang terasa dekat.

Kenapa format seperti ini penting

Di area festival, para mitra nonprofit hadir langsung di “philanthropy village”. Pengunjung bisa mengumpulkan pin dari stan sambil belajar soal layanan kesehatan dari Planned Parenthood atau memberi penghormatan kepada para caregiver lewat National Domestic Workers Alliance.

Ada juga instalasi seni dari Guerilla Girls yang mengajak penonton menuliskan keluhan di papan tulis, dan respons yang muncul mencerminkan nada festival: “PROTECT QUEER KIDS!”, “Put women in charge and pay us more!!!”, “ICE OUT!”, hingga “ABORTION RIGHTS 4 ALL.”

Atmosfer itu terasa jauh dari acara amal yang kaku. Grace Slevin, 24, mengatakan orang biasanya tidak bergerak bersama kalau tidak merasa terhubung dengan kelompok yang menggerakkannya. “What’s better than music?” ujarnya. Melissa Shaw, 33, datang dari Tucson, Arizona, bersama putri berusia 8 tahun.

Ia sengaja ingin anaknya bertanya sambil melihat langsung kerja para nonprofit, bukan hanya menonton dari pagar penonton.

Shaw menyukai fakta bahwa Rodrigo tidak hanya mengangkat organisasi besar seperti Planned Parenthood. Ada pula kelompok yang fokus pada kesehatan ibu kulit hitam dan akses susu formula bayi. Baginya, itu memberi contoh yang konkret tentang figur publik yang memakai panggung besar untuk urusan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Jejak Lilith Fair dan konteks politik yang ikut membayangi

Rodrigo mengambil inspirasi dari Lilith Fair, festival semua perempuan yang mengumpulkan US$10 juta untuk amal dari 1997 sampai 1999.

Sarah McLachlan, yang mendirikan Lilith Fair karena ingin menepis anggapan industri musik bahwa artis perempuan tak bisa dibooking beruntun, ikut tampil bersama Rodrigo pada Sabtu itu.

Dari sisi organisasi, Caren Spruch dari Planned Parenthood National Director of Arts and Entertainment mengingatkan bahwa konser seperti ini penting untuk menjangkau orang “where they are.”

Konteks politiknya juga tidak ringan. Di bawah Presiden Donald Trump, upaya mengubah hibah family planning yang dipakai klinik kesehatan reproduksi untuk layanan kontrasepsi dan pengobatan infeksi menular seksual ikut membayangi acara ini.

Administrasi Trump sempat menghentikan US$27,5 juta tahun lalu untuk organisasi-organisasi seperti itu, termasuk beberapa afiliasi Planned Parenthood, sebelum dana tersebut dipulihkan lagi oleh pejabat.

Bagi banyak pihak di festival itu, angka US$20 juta bukan cuma pencapaian satu hari. Dana itu menandai cara baru menghubungkan konser pop dengan gerakan sosial, terutama ketika isu kesehatan reproduksi, perlindungan kerja, dan akses layanan publik terus diperdebatkan di Amerika Serikat.

Rodrigo sendiri muncul dalam video informatif di media sosial Planned Parenthood, sebuah langkah yang oleh Spruch dinilai membantu menormalkan seluruh spektrum kesehatan dan hak reproduksi.

FreeFrom founder Sonya Passi menyebut, di masa ketika keputusan tentang tubuh, kesehatan, keselamatan, dan masa depan dibuat untuk perempuan, bukan oleh perempuan, satu hari yang dibangun di atas care dan community sudah menjadi pernyataan tersendiri.

Setelah Irv ine, perhatian kini mengarah ke satu pertanyaan yang lebih besar: apakah model festival seperti ini akan diikuti artis besar lain untuk mengubah konser menjadi mesin dana dan ruang edukasi sekaligus.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 31 Agustus 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir