Hal itu juga ditegaskan Kepala Departemen Dermatologi RSPNN dr. Ruri Diah Pamela, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV.
“Sebagai dokter yang menekuni bidang ini, saya melihat tren longevity yang tengah menjadi trend global bukan sekadar gaya hidup, melainkan cara berpikir baru, bagaimana menjaga kulit tetap sehat dan berfungsi baik selama mungkin, bukan sekadar menutupi tanda usia,” ujarnya, dikutip dari keterangannya.
Apa dampaknya untuk pembaca di Indonesia
Bagi banyak orang, perubahan ini punya dampak langsung ke cara memilih produk dan menyusun rutinitas harian. Fokusnya tidak lagi cuma pada efek instan seperti tampilan cerah sesaat, melainkan pada kebiasaan yang menjaga kulit tetap nyaman, terhidrasi, dan terlindungi dari faktor lingkungan yang mempercepat penuaan.
Ini juga penting karena standar cantik yang terlalu sempit sering membuat orang mengejar hasil yang tidak selalu sejalan dengan kebutuhan kulit. Saat usia bertambah, kebutuhan kulit ikut berubah. Maka, pilihan perawatan pun seharusnya ikut menyesuaikan, bukan dipaksakan mengikuti standar yang sama seperti saat masih lebih muda.
Soalnya, di usia 30 dan 40-an, kulit mulai menuntut perhatian yang lebih terarah. Rutinitas yang tepat bukan cuma membantu penampilan, tapi juga menjaga fungsi kulit agar tetap nyaman dipakai menjalani aktivitas harian.
Perubahan cara pandang ini juga membuka ruang bagi pembaca untuk lebih peka membaca tanda kulit masing-masing, alih-alih sekadar membandingkan diri dengan definisi cantik yang lama. Dan dari sini, arah perawatan kulit akan makin jelas: bukan mengejar awet muda semata, melainkan merawat kulit agar tetap sehat saat usia terus bertambah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.