JAKARTA — Kualitas udara Jakarta memburuk drastis dalam hitungan jam, Minggu (6/9/2026). Pagi hari pukul 09.20, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta mencapai 117 atau kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Namun memasuki sore pukul 19.00 WIB, angka itu melonjak menjadi 151 dan masuk kategori tidak sehat untuk semua kalangan.
Peningkatan signifikan itu dipicu dominasi polutan PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 42 mikrogram per meter kubik, berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir. Sumber polutan berasal dari sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebar dari Selat Sunda meluas ke wilayah Jakarta.
Kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil diminta lebih waspada saat beraktivitas di luar ruangan. Mereka disarankan memakai masker untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat buruknya kualitas udara.
Abu Vulkanik Menyebar dari Banten hingga Jakarta
Pelaksana Harian Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah II, Ana Oktavia Setiowati, mengkonfirmasi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah menyebar ke Jakarta. “Betul (abu vulkanik gunung anak Krakatau) sudah menyebar ke sebagian wilayah Jakarta,” ujarnya.
Berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9 pada Minggu pukul 06.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik. Sebaran dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki teramati ke arah Timur Laut-Selatan, mencakup sebagian Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Data berasal dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan VAAC Darwin.
Jakarta Masuk Kota Terburuk Kualitas Udara Dunia
Pada pemantauan kualitas udara kota-kota besar dunia, posisi Jakarta semakin mengkhawatirkan. Jakarta berada di peringkat kesembilan dengan AQI 106 dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk. Ranking itu berada di bawah Kuching dan Kuala Lumpur (Malaysia), Kolkata (India), Dakar (Senegal), Singapura, serta Tel Aviv-Yafo dan Jerusalem (Israel).
Kondisi ini menunjukkan dampak langsung aktivitas vulkanik terhadap kualitas udara urban. Abu vulkanik yang tercampur dengan polutan kota menciptakan lingkungan yang berbahaya bagi kesehatan pernapasan, terutama di kalangan penduduk yang memiliki riwayat gangguan paru-paru atau asma.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.