Kamis, 10 September 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

BMKG Pantau Erupsi Anak Krakatau, Abu Terbawa Hingga Jakarta

BMKG Pantau Erupsi Anak Krakatau, Abu Terbawa Hingga Jakarta
BMKG Pantau Erupsi Anak Krakatau, Abu Terbawa Hingga Jakarta

BMKG memperketat pemantauan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung dan berimbas ke wilayah udara, laut, hingga sebaran abu vulkanik di sejumlah provinsi. Pada Minggu, 6 September 2026, citra satelit BMKG mendapati dua klaster abu yang meluas dari Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat sampai Bengkulu.

Dampaknya langsung terasa di jalur penerbangan. BMKG sudah menerbitkan 18 SIGMET sejak erupsi awal pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB untuk menjaga keselamatan navigasi udara. Serius. Sejumlah sebaran debu vulkanik tercatat bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur dan 50.000 kaki ke arah barat, menurut pembaruan terbaru yang disampaikan Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani.

Abu Vulkanik Menyebar Luas

Sebaran abu yang terpantau tidak berhenti di sekitar Selat Sunda. BMKG menyebut klaster abu melintas di wilayah yang padat aktivitas penduduk dan penerbangan. Kondisi ini membuat pemantauan atmosfer berjalan tanpa jeda, apalagi awan abu terus berubah arah mengikuti hembusan angin di lapisan atas. Di lapangan, situasinya sensitif. Satu perubahan kecil saja bisa menggeser jalur sebaran.

Di sisi lain, aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri belum turun. Badan Geologi Kementerian ESDM pada Senin, 7 September 2026, menyebut gunung api itu masih berpotensi erupsi karena aktivitas vulkanik tetap tinggi. Pada pemantauan pukul 06.00 sampai 12.00 WIB hari itu, tercatat 17 gempa low frequency dan 23 gempa hybrid di kawasan gunung api tersebut. Pola ini menunjukkan sistem vulkanik masih bergerak aktif di bawah permukaan.

Risiko Penerbangan dan Laut Masih Diawasi

Andri Ramdhani menegaskan Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta bergerak cepat sejak erupsi awal dan langsung mengeluarkan peringatan cuaca penerbangan pertama. Dari titik ini, fokus BMKG tak cuma pada udara. Penerbangan harus aman, dan kondisi laut di Selat Sunda juga terus dipantau karena erupsi gunung api bisa mengubah situasi sekitar secara cepat. Karena itu, BMKG menempatkan pengamatan 24 jam sebagai langkah utama.

Sementara itu, perkembangan gempa bumi di Indonesia pada pekan yang sama juga ikut menambah perhatian publik. BMKG mencatat gempa M5,4 di selatan Jawa, tepatnya 77 kilometer tenggara Cilacap, pada Jumat, 4 September 2026 pukul 12.05 WIB. Gempa itu berada pada kedalaman 69 kilometer, tidak berpotensi tsunami, dan dirasakan masyarakat pada skala III MMI di sejumlah titik. Di hari lain, data pemantauan juga menunjukkan gempa M4,2 di Kabupaten Bandung pada Minggu, 6 September 2026, serta gempa M4,4 di Ruteng, Manggarai, sehari setelahnya. Aktivitas seismik ini membuat pekan awal September berjalan cukup sibuk bagi pemantau kegempaan dan gunung api.

BMKG belum mengendurkan pemantauan. Justru sebaliknya. Dengan 18 SIGMET sudah diterbitkan dan abu masih bergerak di ketinggian puluhan ribu kaki, fokus utama sekarang ada pada pembaruan cuaca penerbangan dan pergerakan sebaran vulkanik berikutnya.

(EV)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda