PANDEGLANG — Lima wartawan yang berlayar mengambil foto Gunung Anak Krakatau hilang kontak sejak Senin (7/9) sore. Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda langsung meminta Basarnas dan lembaga terkait mengerahkan upaya pencarian maksimal, termasuk helikopter, untuk menemukan mereka di Selat Sunda.
Hilangnya rombongan jurnalis itu menjadi alarm bagi legislator. Syaiful tegas menekankan kepada Basarnas untuk bergerak cepat dan tidak mengandalkan hanya kapal atau peralatan standar.
“Misalnya kalau sudah sangat memungkinkan menerjunkan helikopter gitu, supaya cepat ketahuan situasinya kayak apa,” ujar Syaiful saat dihubungi kumparan, Rabu (9/9). Ia juga menekankan pengerahan stakeholder lain untuk memobilisasi alat terbaik demi mempercepat penemuan.
Profil Lima Wartawan Hilang
Kelima jurnalis yang hilang adalah Muhammad Bagus Khoirunas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka, Yudis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal (freelance). Mereka berangkat dari Dermaga Marina, Lippo Carita, Desa Sukajadi, Carita, Kabupaten Pandeglang, sekitar pukul 14.00 WIB pada Senin pagi.
Speedboat mereka tidak hanya membawa lima wartawan. Di dalamnya juga ada satu tour guide bernama Heri Bonsay dan dua kru kapal. Total delapan orang berlayar menuju Krakatau untuk meliput aktivitas vulkanik gunung tersebut.
Kontak Terakhir Jam 18.14 WIB
Kades Sukajadi Sandi Wyasa memastikan speedboat itu benar-benar hilang kontak. Kontak terakhir didapat dari tour guide Heri Bonsay, yang sempat mengirim foto ke istrinya pukul 18.14 WIB dengan kabar “aman”. Setelah itu, tidak ada lagi berita dari rombongan.
Jadwal seharusnya sangat sederhana: berangkat jam 14.00, sampai Krakatau jam 16.00, dan kembali pulang jam 20.00 pada malam hari yang sama. Namun rencana itu tidak terwujud.
“Kondisi sekarang memang lagi angin selatan, lagi kencang angin,” ujar Sandi menjelaskan situasi cuaca di perairan saat itu. Angin kencang di Selat Sunda diketahui menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap operasional di lautan.
Desakan Pencarian Cepat dari Legislator
Syaiful tidak hanya meminta helikopter. Wakil Ketua Komisi V itu juga menekankan urgensi waktu dalam setiap langkah Basarnas. “Ya, yang pertama, kita minta Basarnas untuk secepatnya melakukan upaya rescue secepat-cepatnya melakukan pencarian. Dan memobilisasi alat yang terbaik supaya keberadaan mereka bisa secepatnya di ditemukan,” katanya.
Ia berharap rombongan wartawan itu dalam kondisi aman, kemungkinan berlabuh di pulau tertentu di sekitar Krakatau. “Kita berharap tidak terjadi apa-apa, tapi kita ingin ini semua secepatnya dipastikan. Apakah mereka sedang berlabuh di pulau tertentu dan seterusnya itu,” lanjut Syaiful.
Permintaan Komisi V untuk pengerahan helikopter menunjukkan seriusnya legislator dalam merespons insiden yang melibatkan lima jurnalis tersebut. Proses pencarian di lautan lepas pada malam hari dengan kondisi cuaca tidak ideal memerlukan teknologi yang lebih canggih daripada hanya kapal-kapal pencari biasa.
Basarnas diharapkan segera mengoptimalkan setiap sumber daya yang tersedia untuk mempercepat penemuan lima wartawan dan kru kapal lainnya sebelum waktu semakin berharga.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.