JAKARTA — susu formula untuk anak tak cukup dipilih dari tabel nutrisi di kemasan. Orang tua juga perlu melihat bahan utama, sumber susu, sampai proses pengolahan sebelum produk itu diminum anak.
Soal ini penting karena keterbukaan proses membantu orang tua memahami kualitas produk nutrisi anak secara lebih menyeluruh. Di titik ini, label bukan satu-satunya pegangan.
Susu formula tak hanya soal angka di label
Dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang-pediatri sosial, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), mengingatkan agar orang tua tidak berhenti pada kandungan tambahan. Ia meminta orang tua memperhatikan komposisi utama dan sumber bahan yang digunakan.
“Dalam memilih susu formula anak, orang tua perlu memahami tidak hanya kandungan tambahannya, tetapi juga komposisi utama dan sumber bahan yang digunakan. Susu segar sebagai komposisi utama, serta formulasi tanpa maltodekstrin dan perisa sintetik, menjadi salah satu hal yang penting untuk diperhatikan orang tua,” ujar Prof Rini dalam keterangannya, dikutip Rabu 9 September 2026.
Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya besar. Banyak orang tua terbiasa berhenti di sisi yang paling gampang dibaca: protein, vitamin, mineral, lalu langsung menilai produk. Padahal, bahan utama dan asal bahan baku ikut menentukan gambaran utuh tentang susu formula yang akan diberikan ke anak.
Kenapa sumber bahan baku ikut jadi perhatian
Prof Rini juga menilai penjelasan tentang sumber susu dan cara kualitas dijaga dari peternakan sampai fasilitas produksi penting untuk dipahami. Ia menyebut informasi yang lengkap seperti itu bisa membantu orang tua memilih dengan lebih yakin dan tenang.
“Setelah melihat langsung prosesnya, saya juga melihat bahwa penjelasan mengenai sumber susu dan bagaimana kualitasnya dijaga sejak peternakan hingga fasilitas produksi sangat penting. Informasi yang lengkap seperti ini dapat membantu orang tua memilih dengan lebih yakin dan tenang,” sambungnya.
Di sinilah letak perubahan cara pandang. Memilih susu formula tidak lagi semata-mata soal mencari kandungan yang terdengar bagus di kemasan, melainkan menelusuri bagaimana bahan itu dipersiapkan sejak awal. Informasi yang jelas memberi ruang bagi orang tua untuk menilai produk dengan lebih jernih.
Contoh dari FEIHE AceKid
Pada contoh yang disebut dalam bahan, FEIHE AceKid memiliki peternakan mandiri di kawasan Golden Milk Source 47° Lintang Utara. Di sana terdapat 15 peternakan dengan sekitar 150.000 ekor sapi yang menjadi bagian dari rantai pasok susu segar.
Proses pemerahan dilakukan secara otomatis dan terjadwal. Susu yang diperoleh lalu langsung didinginkan pada suhu 0–4 derajat Celsius sebelum dikirim ke fasilitas produksi dalam waktu sekitar dua jam.
Susu segar itu juga diklaim memiliki jumlah bakteri 20 kali lebih rendah dibandingkan standar Uni Eropa. Klaim seperti ini membuat perhatian pada proses produksi terasa makin relevan, karena mutu bahan baku tidak berhenti di tahap peternakan, tapi berlanjut sampai pengolahan.
Bagi orang tua, pesan utamanya jelas. Kebiasaan membaca label bisa diperluas. Bukan cuma melihat berapa banyak kandungan tertentu yang tertulis, tetapi juga mencari tahu bahan utama, asal bahan baku, proses pengolahan, dan sistem pengawasan kualitas yang menyertainya.
Di pasar susu formula, informasi yang lengkap bisa jadi pembeda yang menentukan rasa tenang saat memilih produk untuk anak. Dan di tengah banyaknya pilihan, pertanyaan yang semestinya muncul bukan hanya “kandungannya apa”, melainkan juga “datangnya dari mana, diproses seperti apa, dan dijaga bagaimana”.
“Susu segar sebagai komposisi utama, serta formulasi tanpa maltodekstrin dan perisa sintetik, menjadi salah satu hal yang penting untuk diperhatikan orang tua,” kata Prof. Rini.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.